Sejarah dan Hukum Ramalan Bintang

Ilustrasi ramalan bintangMinggu ini keuangan lancar, hubungan dengan si dia sedang hangat-hangatnya. Begitu isi ramalan bintang di sebuah majalah remaja. Sebagian orang menjadikan informasi tersebut sebagai iseng-iseng belaka, namun tidak sedikit percaya apa yang tercantum dalam ramalan bintang benar dan akan jadi kenyataan

Fenomena Ramalan Bintang Sebagai Penentu Masa Depan

“Sepertinya aku nggak ikut, ya?” kata seorang sahabat suatu ketika.

“Mengapa? Bukankah kemarin kamu semangat sekali ingin ikut? Jarang-jarang kan ada diskon sebesar ini?” saya bertanya, penasaran.

“Iya, menurut ramalan bintang yang aku baca di surat kabar, hari ini adalah hari sialku, jadi lebih baik aku tidak pergi ke mana-mana daripada terjadi sesuatu padaku!” jawabnya yakin.

Saya hanya menepuk jidat merespons jawabannya yang terdengar tidak masuk akal di telinga tersebut.

Berbeda kasus dengan yang di atas, seorang wanita tiba-tiba memutuskan pertunangannya begitu saja dengan calon suaminya. Tak ada sebab yang jelas mengapa dia melakukan itu.

Usut punya usut, ternyata pihak wanita begitu percaya bahwa laki-laki tersebut bukan jodohnya setelah dia melihat ramalan bintang di sebuah situs di internet.

Kejadian-kejadian di atas memang terlihat tidak masuk akal. Akan tetapi, percayalah kejadian tersebut ada di sekitar kita. Disadari atau tidak, banyak di antara kita yang percaya dengan ramalan bintang.

Bermula dari main-main alias coba-coba percaya tidak percaya menjadi ketergantungan. Apalagi, di zaman modern seperti ini, kita bisa mengakses ramalan bintang dari berbagai website dengan mudah dan cepat.

Ramalan Bintang – Mempercayakan Nasib

Alhasil, secara tidak langsung kita mempercayakan begitu saja nasib kita hari ini pada beberapa kalimat yang tertulis di ramalan bintang. Herannya, masih banyak orang yang hidup di era modern seperti ini mempercayakan nasib mereka di tangan ramalan bintang.

Dan, dalam hal ini, kaum wanita yang mudah percaya dan dipengaruhi oleh beberapa kalimat yang ada pada ramalan bintang tersebut.

Sebagian dari mereka berdalih hanya main-main saja saat membaca ramalan bintang di salah satu media atau saat ikut aplikasi ramalan bintang di facebook. Namun, percaya atau tidak, sebagian besar orang yang katanya hanya iseng saja saat melihat ramalan bintang percaya dengan isi yang tercantum di dalamnya.

Sungguh ironis, di tengah perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, masih saja percaya dengan hal-hal yang kurang logis dan cenderung men-judge sesuatu sehingga membuat beberapa orang yang percaya menjadi takut dan sisanya terlalu bahagia karena beberapa kalimat saja.

Berbagai macam fakta yang ada saat ini membuktikan bahwa ramalan bintang masih diyakini oleh beberapa kelompok sebagai invisible hand yang secara tidak langsung menentukan nasib para pembaca.

Bagi yang tidak terlalu fanatik dengan ramalan bintang, bisa jadi hal tersebut hanya dianggap angin lalu saja. Namun, bagaimana bagi kelompok-kelompok yang fanatik? Kelompok yang fanatik tersebut menganggap ramalan bintang sebagai penentu masa depan.

Sesungguhnya, masa depan saya, Anda, dan kita semua tidak ditentukan oleh beberapa kalimat yang ada di ramalan bintang. Masa depan ditentukan oleh kerja keras kita.

Oleh sebab itu, masih percayakah kita bila ada yang mengaku-ngaku bisa mengetahui dan mengubah masa depan kita hanya dengan bermodal ramalan bintang? Semua bergantung pada pola pikir Anda.

Ramalan Bintang – Berkembang di Yunani

Ramalan bintang atau banyak juga yang menyebutnya zodiak dan horoskop, adalah salah satu bagian dalam bidang Astrologi. Secara arti, sebenarnya horoskop atau ramalan bintang ini mengacu kepada sebuah skema atau diagram yang menggambarkan posisi Matahari, bulan, planet dan objek langit, dengan logo-logo atau karakter tertentu, yang dihubungkan dengan sifat, rejeki, jodoh dan keberutungan serta aspek-aspek astrologis lainnya.

Asal mula kata horoskop berasal dari bahasa Yunani, yaitu horoskopos yang artinya adalah “mengamati”, “memeriksa waktu”, atau “tanda”. Akhirnya kata Horoskop ini digunakan sebagai pengganti kata Ramalan Bintang dan ramalan-ramalan mengenai hal yang berkaitan dengan waktu tertentu, karakter tertentu yang diatur berdasarkan diagram yang dibagi menjadi 12 bagian yang disesuaikan dengan tanggal kelahiran seseorang, karena dalam astrologi, dipercaya sifat, karakter dan hal-hal lainnya sudah tertulis pada tanggal dan waktu manusia mulai menghirup udara di Bumi pertama kali.

Ramalan bintang yang sering kita baca di koran atau majalah disebut dengan astrologi. Bangsa Yunani kuno mengembangkan ilmu astrologi berdasarkan gerakan matahari, planet-planet, bintang, dan bulan. Ahli astrologi, yang biasa dipanggil astrolog, mempercayai posisi benda-benda langit tersebut berpengaruh pada kehidupan manusia.

Posisi bintang-bintang di angkasa tersusun dalam pola tertentu yang disebut dengan rasi bintang. Kebudayaan Babilonia mengenal 12 buah rasi bintang yang kita kenal dengan nama zodiak. Zodiak ini sudah berkembang sejak abad 2000 SM di Babiloni kuno. Ke dua belas zodiak itulah yang tercantum dalam ramalan bintang di majalah atau koran, yaitu Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces. Zodiak inilah yang menjadi rujukan untuk menentukan nasib dan masa depan seseorang dalam astrologi.

Ramalan Bintang – Astronomi vs Astrologi

Ilmu yang juga berkaitan dengan bintang adalah astronomi. Berbeda dengan astrologi, astronomi mempelajari fisik bintang serta berbagai fenomenanya. Astronomi mempelajari, memahami, dan meramalkan peristiwa alam yang terjadi di alam semesta, namun tidak mengaitkannya dengan kehidupan manusia. Astronomi berkembang dengan dasar ilmiah bukan perkiraan sebagaimana yang dilakukan astrologi.

Astronomi berkembang pesat pada dunia Islam karena Al-Quran, kitab suci umat Islam, memuat fenomena bintang-bintang pada ayat-ayatnya. Salah satunya terdapat dalam Surat At-Taubah (9) ayat 36, “Sesungguhnya, bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Beberapa ibadah wajib dan sunnah, seperti puasa di bulan Ramadhan, dan sebagian rukun haji juga sangat bergantung pada posisi bulan. Maka dari itu, ilmuwan muslim sangat menguasai ilmu astronomi. Sejarah mencatat bahwa penemuan-penemuan besar mengenai astronomi berasal dari dunia Islam.

Hukum Ramalan Bintang

Para sarjana dan ilmuwan Islam sepakat bahwa astrologi hukumnya haram. Masa depan adalah hal gaib yang hanya diketahui oleh Tuhan saja. Astrologi digolongkan sebagai jenis sihir dan ilmu ramalan karena berdasarkan pada ilusi, bukan pada fakta nyata serta sulit pertanggungjawabannya. Gerakan benda langit dan apa yang terjadi pada manusia di bumi tidak berkaitan erat.

Maka dari itu, tidak perlu bersedih jika ramalan bintang Anda di majalah mengabarkan keadaan buruk. Apalagi, koran dan majalah tidak mencantumkan sumber atau dasar pemuatan ramalan bintang tersebut. Tetap berusaha dan berdoa adalah cara terbaik untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik. Bergantung pada ramalan bintang hanya akan menghambat langkah dan menjadikan kita pesimis saja.

Ramalan nasib dan rezeki termasuk amalan jahiliyyah yang telah dibatalkan oleh Islam, dengan penjelasan bahwa itu termasuk perbuatan syirik, karena mengandung ketergantungan kepada selain Allah dan keyakinan adanya manfaat dan mudharrat dari selain Allah, serta kepercayaan terhadap para peramal dan tukang nujum yang mengaku mengetahui ilmu ghaib secara dusta dan membual belaka. Tujuannya adalah untuk mengeruk uang orang banyak dan merubah keyakinan mereka.

Dalilnya adalah riwayat Abu Dawud dalam Sunan-nya dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barangsiapa yang mempelajari ilmu dari bintang-bintang, berarti telah mempelajari salah satu cabang dari ilmu sihir.  Semakin bertambah ilmunya, semakin dalam ia mempelajari sihir tersebut”

Demikian juga riwayat Al-Bazzar dengan sanad yang bagus dari Imran bin Hushain, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

“Bukan termasuk golongan kita orang yang meramal atau minta diramalkan, orang yang berdukun atau minta didukunkan, orang yang menggunakan sihir (santet) atau mengambil faidah dari ilmu santet”

Maka siapa saja yang mengaku mengetahui perihal ghaib bisa termasuk tukang nujum, atau yang sejenis itu. Karena Allah telah merahasiakan ilmu ghaib.  Sebagaimana firman Allah:

“Katakanlah, tidak ada yang mengetahui keghaiban di langit dan di bumi melainkan Allah..” (QS. 27:65)

Speak Your Mind

*