Sejarah KB dan Keunikannya

Ilustrasi sejarah kbIndonesia adalah satu diantara sedikit negara yang memiliki jumlah penduduk cukup banyak. Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali disiasati dengan beberapa upaya, salah satunya adalah KB atau keluarga berencana. Sejarah KB pun mau tidak mau menjadi sebuah cerita yang menarik untuk diikuti. Sejarah KB menjadi pelajaran yang cukup berharga bagi pemerintah maupun pasangan suami istri yang hendak ber-KB.

Memiliki keturunan adalah keinginan bagi setiap pasangan yang sudah terikat secara sah melalui sebuah ikatan pernikahan. Tapi apabila jumlah anak yang dimiliki juga terlalu banyak, hal ini akan menimbulkan permasalah tersendiri. Sejarah KB akhirnya menjadi sebuah informasi yang pasti akan berguna.

Sejak dahulu, manusia memiliki naluri yang hampir sama dengan binatang. Naluri ini terutama dalam hal keinginan untuk melakukan perkawinan dengan lawan jenisnya. Tentu saja karena manusia mempunyai hormon seksual yang mendorong dirinya untuk melakukan perkawinan guna mendapatkan keturunan yang bisa melestarikan jenisnya. Dengan mengetahui sedikit informasi tentang sejarah KB, diharapkan pengetahuan manusia tentang reproduksi menjadi semakin bertambah.

Akan tetapi, di balik keinginan manusia untuk melakukan perkawinan, ternyata tidak selalu dibarengi dengan kesiapan untuk memiliki anak. Hal ini mendesak manusia untuk mencari cara agar saat setiap kali melakukan perkawinan, tidak berpotensi untuk hamil dan melahirkan. Cara ini kemudian disebut sebagai kontrasepsi. Kebutuhan manusia akan sebuah alat yang menahan laju pertumbuhan penduduk, menjadi awal mula terciptanya cerita mengenai sejarah KB.

Sejarah KB dimulai sejak zaman dahulu. Berbagai cara untuk “mencegah” kehamilan sudah banyak dilakukan. Konon, salah satu cara tersebut adalah dengan menggunakan teknik coitus interuptus (melakukan ejakulasi di luar alat kelamin wanita).

Cerita menganai sejarah KB tidak lepas dari cerita-cerita tentang “kesuburan” wanita itu sendiri. Prinsip kesuburan wanita selama masa ovulasi (pelepasan sel telur) sudah ada sejak zaman Yunani Kuno pada abad 2M. Saat itu, seorang ahli medis, Soranus, menyebutkan bahwa kehamilan akan terjadi saat wanita berada dalam masa subur.

Masa subur tersebut terjadi ketika ovulasi. Namun, Soranus keliru dengan pendapatnya tentang masa ovulasi yang terjadi saat wanita menstruasi. Jadi pada saat itu, para wanita hanya menghindari kehamilan di saat menstruasi saja. Dan tentu saja, kehamilan tetap saja terjadi. Karena ketidaktahuan akan ilmu pengetahuan, pendapat Soranus tentang masa ovulasi yang terjadi di saat wanita sedang menstruasi ini tetap ada sampai 1930. Pendapat para ahli ini mengiringi cerita perjalanan panjang sejarah KB.

Sejarah KB – Bahan  kontrasepsi di Masa Lampau

KB atau masyarakat Indonesia mengenalnya dengan sebutan keluarga berencana adalah sebuah upaya pemerintah untuk mengontrol laju pertumbuhan penduduk Indonesia. Secara tidak langsung, kehamilan pada setiap wanita Indonesia sebisa mungkin diminimalisir dengan alasan tertentu.

Sejarah mengenai hal itu, KB atau keluarga Berencana sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Sejarah KB secara tidak langsung juga memiliki hubungan cerita dengan pencegahan kehamilan yang sudah dilakukan oleh bangsa lain sejak lama.

Cara pencegahan dari kehamilan pasca-berhubungan badan mengalami perkembangan yang aneh. Cara pencegahan kehamilan zaman dahulu sepertinya juga ikut melatarbelakangi sejarah KB di Indonesia. Penggunaan minyak zaitun, bubur delima, jahe, bahkan hingga jus tembakau yang dilumurkan di sekitar alat kelamin banyak dipercaya sebagai cara yang ampuh.

Cerita yang salah tentang sejarah “pencegahan” kehamilan atau sebut saja sejarah KB juga terjadi. Berbagai minyak, biji, hingga sayur-sayuran dianggap sebagai salah satu obat kontrasepsi. Bahkan, Soranus menyarankan para pasiennya untuk meminum air dari tempat biasa para pandai besi mendinginkan logam yang panas.

Obat kontrasepsi oral lain misalnya saja adalah urin, organ-organ tubuh hewan yang diberi merkuri, arsen, dan strychnine. Padahal kita tahu sekarang bahwa merkuri, arsen, dan strychnine merupakan racun yang bisa membunuh makhluk hidup.

Sejarah KB – Cara  Mencegah Kehamilan di Eropa

Sejarah KB juga diwarnai keanehan. Keanehan dalam ber-KB juga terjadi dalam hal tingkah laku. Banyak wanita melakukan hal-hal yang absurd dalam mencegah kehamilan. Soranus juga memberikan saran bagi para pasien wanitanya untuk loncat-loncat 7 kali setelah melakukan hubungan badan.

Begitu juga dengan wanita-wanita Eropa lain. Setelah melakukan hubungan badan, para wanita ini langsung menggoes gilingan gandum (yang mirip dengan sepeda) sebanyak 4 kali bolak-baik di tengah malam. Semua itu menjadi cerita yang mungkin mendasari terjadinya upaya KB di Indonesia.

Penggunaan douches atau cairan pembilas yang bertujuan mematikan sperma yang masuk ke dalam rahim mulai dikenal di tahun 1600-an. Cara ini pertama kali dilakukan para wanita pekerja seks komersial setelah melayani langganannya.

Mereka menggunakan sejenis cairan asam yang justru membahayakan rahim mereka sendiri. Sejarah KB atau sejarah pencegahan kehamilan ternyata juga ikut menyertakan cerita-cerita menyeramkan yang dapat membahayakan wanita itu sendiri.

Sejarah KB – Penghalang

Berikutnya cerita mengenai sejarah KB terus berkembang.  Cara mencegah sperma bertemu sel telur dengan menggunakan penghalang (barrier). Penghalang pertama yang dikenal adalah spons laut yang dibuat dari benang wol halus. Bahan ini kemudian dicelupkan ke dalam cuka atau jus lemon. Selanjutnya, penghalang ini dimasukkan ke dalam rahim perempuan. Akan tetapi, cara ini tidak bertahan lama karena faktor ketidaknyamanan.

Di negara-negara oriental, cara yang terbukti ampuh dalam mencegah kehamilan di masa lampau adalah dengan penggunaan kertas berminyak yang mampu menutup leher rahim. Benda-benda itu menjadi saksi bisu perjalanan sejarah KB.

Sejarah KB – Kemunculan  IUDs (Intrauterine Devices)

Banyak ahli sejarah yang setuju bahwa kemunculan IUD untuk pertama kali terjadi di negara-negara Arab. Semua bermula dari temuan penempelan kerikil halus pada rahim unta sebagai pencegah kehamilan selama masa melintasi gurun.

Di sini, prinsip IUD yang dibuat adalah menciptakan infeksi ringan pada rahim untuk mencegah fertilisasi dan implantasi zigot hasil perkawinan sel telur dan sperma. Prinsip inilah yang kemudian menjadi bagian dari sejarah KB diseluruh negara termasuk Indonesia.  Prinsip ini memberikan ide pembuatan IUD bagi manusia (wanita).

Seorang ahli kandungan dari Jerman, Grafenberg, di tahun 1920 mulai membuat IUD dari bahan kawat perak. Kemudian, di tahun 1965, muncul IUD yang terbuat dari polietilen. Terakhir, muncul IUD yang terbuat dari tembaga (1970-an). IUD dari bahan inilah yang kemudian dikembangkan menjadi IUD yang dipakai hingga sekarang.

Sejarah KB – Kontrasepsi  Untuk Pria

Memasuki abad ke-17, pelaku kontrasepsi tidak hanya perempuan. Dalam sejarah KB atau dengan kata lain sejarah “pencegahan” kehamilan pada manusia kaum pria juga mulai mengenal alat kontrasepsi. Alat pertama yang dikenal dalam kontrasepsi pria ini adalah kondom. Konon, kondom pertama dibuat untuk Raja Charles II.

Bangsa Mesir Kuno juga sudah mengenal kondom. Namun, kondom ini ternyata bukan sebagai alat kontrasepsi, melainkan sebagai alat pelindung dari gigitan serangga. Di tahun 1990-an, muncul kondom yang terbuat dari bahan karet. Inovasi ini dibuat oleh Charles Goodyear. Dari sinilah cikal bakal kondom yang sekarang banyak dipakai mulai berkembang.

Sejarah KB – Jenis Kontrasepsi yang Berkembang

Di akhir abad ke-19, temuan cara dan alat kontrasepsi mulai bermunculan. Kecanggihan teknologi semakin mempermudahnya. Misalnya saja temuan pil KB, adanya operasi sterilisasi, vasektomi, tubektomi, dan lain-lain.

Cerita mengenai sejarah penanggulangan kehamilan yang terjadi di berbagai negara mendasari terciptanya sebuah upaya pemerintah Indonesia untuk menekan laju pertumbuhan penduduknya. Sejarah KB atau sejarah “pencegahan” kehamilan yang sudah lebih dulu terjadi ikut memengaruhi penggunaan KB secara luas. Termasuk di Indonesia yang kini menggunakan berbagai macam alat kontrasepsi. Namun pun demikian, masyarakat tidaklah diharuskan dalam menggunakan KB. Memakai KB atau tidak, semua bergantung kepada individu masing-masing.

Speak Your Mind

*