Semua Berawal dari Mimpi, Kawan!

Ilustrasi mimpi

Daftar Isi

  1. Mimpi Adalah Bunga Tidur
  2. Semua Berawal dari Mimpi
  3. Ramalah dari Mimpi

Mimpi adalah sebuah kata yang menjadi bagian dari unsur kehidupan manusia. Mimpi erat hubungannya dengan tidur sehingga ada ungkapan bahwa mimpi adalah bunga tidur.

Ungkapan bahwa mimpi adalah bunga tidur memang tidak salah. Tentu saja jika hal tersebut dikaitkan dengan mimpi yang hadir saat kita tidur. Tapi tentu saja berbeda jika hal tersebut dikaitkan dengan mimpi sebagai sebuah khayalan atau impian.

Jika dikaitkan dengan hal yang lebih luas, mimpi bisa juga diartikan sebagai keinginan. Memercayai bahwa segala sesuatu itu berawal dari keinginan kemudian berusaha untuk mewujudkannya menjadi nyata menjadi semacam aturan taktertulis dalam meraih kesuksesan.

Apa yang ada di kehidupan sekarang saat ini, seperti segala macam bentuk kemajuan di bidang teknologi. Percaya atau tidak ini semua merupakan mimpi-mimpi pada pendahulu kita. Dengan usaha, akhirnya impian tersebut dapat menjadi nyata. Belajar dari situ, rasanya tidak ada alasan lagi untuk tidak bermimpi. Bermimpi itu gratis, mewujudkannya lah yang membutuhkan pengorbanan dan usaha.

Semua Berawal Dari Mimpi, Teman !

Mimpi Adalah Bunga Tidur

Mimpi adalah bunga tidur. Mimpi adalah petunjuk. Dan mimpi bisa jadi berkenaan dengan apa saja yang kita inginkan. Namun, mimpi dalam hal ini bukan lagi bunga tidur, melainkan mimpi yang erat kaitannya dengan keinginan.

Mimpi yang berarti harapan atau cita-cita seseorang. Ketika manusia tertidur, sesungguhnya alam bawah sadar manusia itu tidak tertidur. Ada sebagian orang percaya bahwa ketika tidur, ruh kita keluar dari tubuh, berkelana dan melakukan apapun yang disukainya.

Konon, mimpi adalah refleksi dari keinginan seseorang. Itulah sebabnya, mimpi hanya bisa hadir saat kita tertidur. Tidur memang selalu identik dengan mimpi.

Kehadiran mimpi dalam tidur ibarat pemanis, ibarat bunga, yang akan membuat tidur menjadi terasa lebih “seru”, diluar mimpi apa yang kita alami, baik buruk maupun baik, mimpi tetap membuat tidur kita menjadi lebih “hakiki”.

Mimpi adalah kunci. Begitu kata Giring “Nidji”. Dengan bahasa yang lebih sederhana, mimpi adalah titik awal sebuah pencapaian. Segala keinginan bersumber dari mimpi. Seorang yang punya mimpi menandakan bahwa ia masih memiliki kehidupan dan berniat untuk hidup.

Kedengarannya memang seolah muluk. Namun, itulah realitanya. Banyak orang meraih kesuksesan yang mungkin pada awalnya hanya sebuah mimpi.

Mimpi setiap orang tentu berbeda. Setiap orang menginginkan pencapaian maksimal dalam hidupnya. Namun, setiap pemimpi memiliki batas maksimalnya sendiri dalam bermimpi. Hal ini berkaitan erat dengan kodrat setiap manusia.

Manusia lahir dari rahim berbeda, lingkungan berbeda, dan secara otomatis tumbuh di tengah kebudayaan yang berbeda pula. Lingkungan bisa berpengaruh terhadap seseorang untuk bermimpi.

Lingkungan yang penuh dengan persaingan sehat orang-orang berilmu pengetahuan akan memacu seseorang untuk bermimpi lebih besar dari apa yang diraih kebanyakan orang di lingkungannya.

Namun, ada kalanya lingkungan ini pula berdampak pada kemalasan seseorang hingga mematikan mimpinya. Ia bahkan taklagi punya mimpi. Satu saja yang diamininya, “Untuk apa repot-repot bermimpi? Toh, orang pandai sudah banyak di negara ini. Presiden sudah ada. Jadi, untuk apa bermimpi?”

Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi orang-orang dengan tingkat pendidikan rendah dan kehidupan yang masih mengagungkan nilai-nilai adat yang tradisional dan kolot, membuat seseorang enggan untuk bermimpi.

Bahkan, tidak terlintas untuk bermimpi. Toh, kehidupan berlangsung aman-aman saja dengan cara yang diwariskan leluhur.

Kondisi seperti ini masih banyak ditemui di daerah-daerah perkampungan yang kehidupannya jauh dari lingkungan perkotaan. Masih adanya anggapan bahwa hanya orang-orang berduit dan orang-orang pintar saja yang bisa sekolah dan meraih mimpinya membuat masyarakat, terutama generasi mudanya, enggan untuk bermimpi.

Padahal, sekolah tinggi tidak melulu hanya bisa ditempati orang-orang pintar dan berduit saja.

Kalau sudah kaya, untuk apa repot-repot sekolah? Kalau sudah pintar, apa gunanya sekolah? Itulah yang harus dipahami bahwa semua hal bisa dipelajari dan dicapai asal kita berkeinginan.

Dengan demikian, pengaruh lingkungan bagi lahirnya sebuah mimpi tidaklah selalu nyata. Semua akan bergantung pada keinginan manusia itu sendiri untuk mengubah pola pikir yang itu-itu saja. Semua bergantung pada keinginan untuk hidup selalu lebih daik dari keadaan sebelumnya. Mereka adalah orang-orang yang berani untuk mendobrak semua kemalasan dan hal-hal lain yang mengungkungnya untuk bermimpi.

Sebagai contoh, ada sebuah film yang dapat dijadikan motivasi bagi kita untuk tidak takut bermimpi setinggi-tingginya. Film itu adalah Sang Pemimpi. Sebuah film yang dialihmediakan dari sebuah novel dengan judul sama karya Andrea Hirata.

Tidak ada yang tidak mungkin du dunia.

Dalam film itu, diceritakan mengenai mimpi besar dua orang anak kampung dengan kondisi perekonomian pas-pasan. Ikal dan Arai adalah dua orang anak SMA yang bermimpi untuk melanjutkan kuliah di Sorbone University di Prancis, Paris.

Bagaimana tidak, dalam keadaan kampung dengan tingkat perekonomian penduduk kebanyakan berada di garis kemiskinan, mimpi Ikal dan Arai hanya dinilai sebagai suatu hal yang sangat mustahil. Mengenal kota saja tidak, apalagi mau ke luar negeri.

Mimpi Ikal dan Arai tidak terlepas dari peran guru bahasa Indonesianya bernama Pak Balia. Pak Balia adalah satu-satunya orang yang selalu memacu semangat Ikal dan Arai untuk berkuliah di Paris.

Mendatangi negara yang dikenal dengan kiblat mode dunia. Menjelajahi negara dengan kemegahan Eiffel yang sangat eksotis. Menimba ilmu di universitas Sorbone.

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Berkat keinginan kerasnya, mimpi Ikal dan Arai bukan lagi hanya sebagai wacana dan obrolan konyol sebelum tidur. Mereka mampu mewujudkan mimpinya untuk berkuliah di Paris.

Itulah salah satu cerita yang dapat dijadikan motivasi bagi kita untuk tidak takut bermimpi. Semua hal bisa terwujud hanya dari mimpi.Jadi, jangan pernah takut untuk bermimpi! Jangan pernah merasa kerdil untuk memiliki satu mimpi besar! Mimpi atau cita-cita bukan lagi celotehan ringan saat balita, melainkan tombak awal bagi kehidupan kita untuk menggapai kesuksesan.

Ramalan Dari Mimpi

Mimpi selalu datang dengan sendirinya ketika manusia terlelap. Mimpi datang dari alam bawah sadar manusia. Namun, pada dasarnya mimpi berhubungan dengan hal yang tengah kita pikirkan dalam keadaan sadar.

Selain memunculkan memori-memori alam sadar, mimpi juga dapat melahirkan sebuah petunjuk bagi sebagian orang yang tengah menghadapi masalah.

Sebagian orang percaya jika mimpi juga berkaitan dengan ramalan.  Lebih tepatnya prediksi mengenai nasib seseorang di masa depan.

Kehidupan mendatang seseorang ‘dapat diteropong’ lewat apa yang dimimpikannya. Fenomena ramalan melalui mimpi ini telah dipercayai sejak lama oleh sebagian besar masyarakat Jawa.

Buku primbon menjadi salah satu bukti yang paling nyata. Kaitan antara mimpi dengan ramalan tertulis jelas. Tafsir mimpi juga diamini oleh banyak orang.

Bahkan ketika kita memohon petunjuk pada Allah Swt, takj arang mimpi sering jadi perantaranya untuk jawaban atas pertanyaan yang kita ajukan pada-Nya.

Selain seorang peramal, buku tabir mimpi dijadikan alat untuk mengartikan sebuah mimpi. Sebagai contoh, mimpi digigit ular berarti kita akan mendapat jodoh, mimpi dikejar orang gila berarti kita akan sakit, dan sebagainya.

Speak Your Mind

*