Seputar Legenda Vampir

Ilustrasi legenda vampir

 

Apakah semua penampakan legenda vampir memang rupawan? Jika Anda adalah penggemar film atau serial vampir modern maka yang Anda lihat adalah tokoh-tokoh vampir yang berwajah rupawan.

Sebut saja sekuel film Twilight yang diadaptasi dari novel karya Stephenie Meyer yang hampir seluruh pemeran vampire dalam film itu adalah aktor dan aktris berwajah molek.

Hal itu menjadi salah satu magnet hebat yang menarik jutaan penonton untuk menyaksikan sekuel film tersebut. Tak kalah menarik actor tampan Johnny Depp baru-baru ini memerankan vampir berusia 2 abad dalam film terbarunya yang berjudul Dark Shadows. Bila disebutkan satu persatu, masih banyak film dan serial vampir yang tokohnya adalah vampir berwajah tampan.

Bila ditelusuri sejarahnya, keberadaan vampire bermula dari kepercayaan masyarakat Eropa Slavia mengenai arwah-arwah setelah mati. Layaknya kepercayaan sebagian besar masyarakat di dunia mengenai dunia hantu, arwah-arwah yang telah meninggalkan jasadnya akan menjadi roh baik ataupun roh jahat sesuai dengan sebab-sebab kematian atau kehidupannya sebelum mati.

Misalnya, kematian karena pembunuhan sadis, anak yang meninggal sebelum dibaptis, atau orang berperilaku jahat semasa hidupnya seperti pembunuh atau tukang sihir akan menjadi arwah jahat yang bisa menyakiti manusia.

Dalam hal ini masyarakat Slavia mempercayai bahwa arwah jahat bisa menguasai mayat yang telah terpisah dengan roh aslinya sehingga menjadi mayat hidup (zombie).

Mayat yang dikuasai adalah mayat baru yang belum sepenuhnya membusuk. Untuk mempertahankan keberadaannya mayat hidup ini memerlukan darah segar dari hewan ataupun manusia.

Terlepas dari kepercayaan apakah eksistensi vampir benar adanya atau hanya sekedar mitos, legenda tentang vampir terus berkembang dari zaman ke zaman di berbagai belahan dunia dengan rupa dan versi yang berbeda.

Perkembangannya menjadi lebih menarik untuk disimak karena legenda vampir itu kini telah berbaur antara cerita masyarakat tradisional,  asumsi para peneliti dan fiksi.

Salah satu yang menarik untuk disimak itu adalah berbagai rupa penampakan vampir dalam berbagai kepercayaan masyarakat dunia termasuk dalam cerita fiksi.

1.  Vampir Yunani dan Romawi

Masyarakat pada zaman Yunani dan Romawi kuno mengenal makhluk bernama Empusa yaitu setan penghisap darah lelaki yang merupakan anak dari salah satu dewi yang mereka sembah bernama Hekate.

Ada pula Larnia monster mengerikan yang menyukai darah anak kecil serta monster bertubuh seperti gagak pemangsa darah pria muda dan anak-anak.

2.  Afrika Barat

Asanbosam adalah sejenis makhluk yang memilki gigi besi dan bersarang di pepohonan di daerah Afrika Barat. Cerita mengenai makhluk ini muncul di kalangan suku Ashanti.

Suku-suku lain seperti suku Ewe juga memiliki cerita mengenai makhluk bernama Adze yang dapat merubah diri menjadi kunang-kunang. Keduanya senang menghisap darah anak-anak. Ketua suku dan para dukun biasanya mengadakan ritual-ritual tertentu untuk mengusir makhluk jahat ini.

3.  Vampir Cina

Masyarakat Cina menyebutnya Jiang Shi. Jiang Shi adalah zombie yang bisa dikuasai dengan mantera-mantera. Dalam film-film Cina, vampir ini digambarkan dengan sesosok mayat berpakaian khas Cina yang berjalan dengan melompat dan tangan terentang ke depan.

Biasanya vampir-vampir ini berlindung di tempat gelap seperti peti mati atau gua di malam hari dan mencari mangsa di siang hari. Mereka membunuh makhluk hidup untuk menyerap esensi kehidupan atau yang diistilahkan dengan Qi. Serupa dengan di Cina, di Jepang dan di Korea vampir ini disebut dengan Kyonshi dan Gangshi.

4.  Vampir kelelawar di Peru

Karena sifatnya yang aktif hanya di malam hari (nocturnal), orang-orang Peru pada zaman dulu mengaitkan kelelawar dengan cerita vampir dan menghubungkannya erat dengan tanda nasib dan hal-hal gaib.

Pada perkembangannya kelelawar dikaitkan dengan cerita vampir karena kesamaannya dalam hal tertentu yaitu menyerang manusia dan hewan serta gigitannya menimbulkan dua bekas gigitan di kulit sehingga cerita manusia kelelawar yang menghisap darah manusia semakin merebak. Bentuk rupanya adalah manusia yang memilikii sayap seperti kelelawar dan bergigi taring panjang.

5.  Ghoul dari Arab Kuno

Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab terkenal dengan sebutan jahiliyah karena keburukan moral orang-orang Arab pada masa itu termasuk kepercayaan mereka terhadap dewa dan arwah-arwah yang menghuni berhala-berhala yang mereka sembah.

Pada masa itu juga berkembang kepercayaan terhadap adanya makhluk jahat yang mengganggu kehidupan mereka. Salah satunya adalah adanya ghoul yang sering memangsa para pengembara yang melintas di padang pasir. Ghoul ini juga adalah perusak kuburan dan memakan mayat.

Sebagian orang mempercayai bahwa ghoul ini adalah sebangsa jin jahat yang dalam ajaran Islam keberadaan jin memang tertulis dalam Al-quran. Namun berdasarkan cerita masyarakat pada masa itu ghoul juga dianggap sebagai makhluk sejenis vampir.

6.  Troll dari Skandinavia

Masih diragukan tentang keberadaan troll ini apakah dikategorikan ke dalam jenis vampir atau tidak. Namun berdasarkan ciri-ciri yang digambarkan dalam  cerita masyarakat troll hidup di gua di daerah pegunungan Skandinavia dan berkeliaran di malam hari untuk memangsa wanita dan anak-anak.

Penampakannya dapat berubah-ubah untuk mengelabui mangsanya kadang berupa manusia raksasa buruk rupa yang berbulu yang sangat mengerikan ataupun kadang menjelma menjadi manusia yang tampan atau cantik. Bila terkena sinar matahari makhluk ini bsa berubah menjadi batu.

7.  Drakula

Drakula adalah nama tokoh vampir dalam cerita fiksi klasik yang dikarang oleh Bram Stoker pada tahun 1897 dalam novel yang berjudul Novel Dracula. Dalam novelnya ini Stoker menggambarkan Dracula sebagai sosok vampir yang menghisap darah manusia untuk sebuah keabadian. Sosoknya juga digambarkan sebagai pria tampan yang berpenampilan rapi yang mangsanya adalah sebagian besar wanita.

Pada saat memangsa dan menghisap darah Drakula akan memperlihatkan taring panjang dan mata merah. Dalam drama-drama tahun 1920-an Drakula digambarkan memakai jubah yang berleher tinggi. Alasannya pada saat itu adalah untuk memudahkan adegan menghilang pada saat di pentas. Dalam fiksi dan film populer hal itu menjadi identitas gambaran seorang drakula.

Meskipun Dracula adalah hasil sebuah karya fiksi namun Stoker mengambil referensi sejarah untuk karyanya ini. Tentang kaitan sejarah dengan novel ini dan seberapa banyak Stoker mengetahui intisari sejarahnya adalah hal yang masih menjadi perdebatan diantara kalangan para sastrawan.

Seiring dengan terus berkembangnya ilmu pengetahuan dan peradaban manusia, banyak peneliti yang melakukan penelitian untuk membantah  keberadaan vampir ini.

Diantaranya disebutkan anggapan bahwa vampir adalah orang mati yang tidak membusuk karena ketidaksempurnaan penguburan atau berkaitan dengan kejahatannya semasa hidup. Hal itu dibantah dengan fakta bahwa pada saat itu manusia belum memahami proses pembusukan pada mayat.

Anggapan lain mengenai mengapa vampir berwajah pucat, mengeluarkan darah serta bertaring dan berkuku panjang adalah karena pembengkakan akibat gas hasil dari pembusukan yang terkumpul di dalam tubuh mayat. Tingginya tekanan sebagai bagian dari proses pembusukan mengakibatkan hidung atau mulut mengeluarkan darah.

Mayat juga menjadi terlihat gemuk sehingga menimbulkan kesan pucat. Selain itu, karena mayat mengalami pengkerutan dan kehilangan cairan maka  gigi di mulut bagian dalam menjadi seperti keluar dari mulut serta kuku dan rambut terkesan semakin memanjang sehingga tampak sangat mengerikan.

 

Speak Your Mind

*