Sistem hukum islam

Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, Islam mempunyai standar aturan bagi masyarakatnya. Keberadaan aturan atausistem hukum Islamyang biasa disebut syariat Islam merupakan hukum dan ketentuan Allah swt untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah (hablumminallah), hubungan manusia dengan diri sendiri (hablumminannafsy), dan hubungan manusia dengan sesamanya (hablumminannas).

Secara praktis, dalamhablumminallah,Islam mengatur masalah akidah dan ibadah. Dalamhablumminannafsy,Islam mengatur masalah pakaian, minuman, akhlak, makanan, dan sebagainya. Sementara itu, dalamhablumminannas,Islam mengatur masalah muamalah. Misalnya, perdagangan, politik, ekonomi dan pendidikan, sertauqubat(persanksian).

Syariat Islam mempunyai sistem khas yang tidak dimiliki agama mana pun. Kekhasan ini dapat dilihat dari pelaksanaannya. Penerapan syariat Islam dapat memberikan rahmat bagi manusia dan menjaga kehormatan manusia. Di tengah meningkatnya tindak kriminal, syariat Islam bisa menjadi solusi atas permasalahan yang ada masyarakat. Syariat Islam mampu mencegah terjadinya tindak kriminal dengan landasan ketakwaan dan keimanan kepada Allah swt.

Setiap manusia akan merasa terikat dengan hukum-hukum Allah, sehingga ia akan senantiasa merasa takut ketika akan melanggar hukum-Nya. Selain itu, syariat Islam juga akan menjadi penebus dosa bagi pelaku yang melakukan tindak kriminal, sehingga ia akan terbebas dari siksa di akhirat. Maka, syariat Islam bersifat adil dan tidak diskriminatif. Ia berlaku bagi siapapun dan di mana pun.

Sumber Sistem Hukum Islam

Hukum Islam adalah suatu sistem hukum yang nilai-nilainya didasarkan kepada aturan dan ketetapan Allah Swt. yang disampaikan-Nya melalui Rasulullah Saw. Dasar hukum Islam yang utama adalah Al-Quran, selanjutnya adalah hadis Nabi yang sahih. Selanjutnya para ulama ahli melakukan pendekatan-pendekatan dan membuat pemahaman terhadap Al-Quran dan hadis sehingga lahirlah kitab fikih. Kitab fikih merupakan kitab pedoman yang berisi hukum serta peraturan Islam. Usaha para ulama untuk melakukan pendekatan dan membuat pemahaman disebut juga sebagai ijtihad.

Pada dasarnya hukum Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia serta makhluk hidup lain, dan hubungan manusia dengan benda. Karena Rasulullah Saw. diturunkan di Arab, sistem hukum ini lahir di Arab pula. Seiring dengan berkembangnya Islam ke berbagai belahan dunia, sistem hukum ini semakin berkembang dan diaplikasikan oleh umat muslim di seluruh dunia.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, sumber pedoman hukum Islam adalah kitab suci Al-Quran yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah Saw. melalui Jibril. Sumber hukum berikutnya adalah hadis yang berisi sunah Rasul, yakni cara hidup dan perilaku Nabi Muhammad Saw. semasa hidup dan mengamalkan ajaran Islam. Selain kedua sumber tersebut, ada juga ijmak. Ijmak adalah kesepakatan yang dibuat oleh para ulama terpercaya terkait cara hidup dan permasalahan seputar kehidupan. Ada juga qiyas, serupa analogi untuk mengira-ngira hukum suatu kasus yang belum ada di masa hidup Rasulullah dengan menyamakannya dengan kasus mirip yang pernah terjadi di masa kehidupan Rasulullah Saw.

Bidang Sistem Hukum Islam

Pada prinsipnya, hukum Islam memiliki dua bidang besar yang mencakup sub-subbidang kecil di bawahnya. Kedua bidang tersebut adalah bidang hukum rohaniah dan hukum duniawi. Hukum rohaniah berkaitan dengan tata cara pelaksanaan ibadah. Dengan kata lain, sistem hukum Islam bidang rohaniah berfungsi membimbing dan memandu umat Islam untuk beribadah (ritual) dengan baik dan benar, seperti tata cara pelaksanaan salat, puasa, zakat, dan haji. Hukum rohaniah biasanya tidak menjadi objek perkuliahan di fakultas hukum Islam.

Yang kedua adalah hukum duniawi. Hukum duniawi adalah peraturan Islam yang mengatur tata cara dan prosedur hal-hal yang terkait hubungan manusia satu dengan manusia lainnya (urusan dunia). Hukum duniawi terdiri dari sub-subbidang sebagai berikut:

  1. Muamalat. Yang dimaksud dengan muamalat adalah hukum dan peraturan terkait hubungan manusia dengan manusia lain di bidang sewa-menyewa, jual beli, perburuhan, perikatan, hukum kepemilikan, hak kebendaan, hukum tanah, dan berbagai bentuk hubungan ekonomi yang terjadi di masyarakat.
  2. Nikah atau munakahah. Yang dimaksud dengan nikah atau munakahah adalah peraturan dan hukum Islam terhadap proses pernikahan atau pembentukan keluarga. Hukum nikah terdiri dari syarat nikah, rukun nikah, hak dan kewajiban suami serta istri, dasar-dasar pernikahan, dan sebagainya.
  3. Jinayat. Yang dimaksud dengan jinayat adalah hukum terkait masalah pidana kejahatan (kriminal) dan pelanggaran hukum Allah.

Negara-negara yang mengaplikasikan sistem hukum dengan nilai-nilai Islam sebagai sistem hukum nasional negaranya melaksanakan dan menyusun peraturan dengan memanfaatkan ketiga subbidang hukum duniawi di atas.

Tujuan Sistem Hukum Islam

Sumber hukum syariat Islam adalah Al quran dan As sunnah. Sebagai hukum dan ketentuan yang diturunkan Allah swt, syariat Islam telah menetapkan tujuan-tujuan luhur yang akan menjaga kehormatan manusia, yaitu sebagai berikut.

  • Pemeliharaan atas keturunan. Misalnya, syariat Islam mengharamkan zina dan mengharuskan dijatuhkannya sanksi bagi pelakunya. Hal ini untuk menjaga kelestarian dan terjaganya garis keturunan. Dengan demikian, seorang anak yang lahir melalui jalan resmi pernikahan akan mendapatkan haknya sesuai garis keturunan dari ayahnya.
  • Pemeliharaan atas akal. Misalnya, syariat Islam mengharamkan segala sesuatu yang dapat memabukkan dan melemahkan ingatan, seperti minuman keras atau beralkohol dan narkoba. Islam menganjurkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu dan mengembangkan kemampuan berpikirnya. Jika akalnya terganggu karena mengonsumsi minuman beralkohol, akalnya akan lemah dan aktivitas berpikirnya akan terganggu.
  • Pemeliharaan atas kemuliaan. Misalnya, Islam mengatur masalah tentang fitnah atau tuduhan dan melarang untuk membicarakan orang lain. Hal ini untuk menjaga kemuliaan setiap manusia agar ia terhindar dari hal-hal yang dapat mencemari nama baik dan kehormatannya.
  • Pemeliharaan atas jiwa. Misalnya, syariat Islam telah menetapkan sanksi atas pembunuhan, terhadap siapa saja yang membunuh seseorang tanpa alasan yang benar. Dalam Islam, nyawa manusia sangat berharga dan patut dijaga keselamatannya.
  • Pemeliharaan atas harta. Misalnya, syariat Islam telah menetapkan sanksi atas kasus pencurian dengan potong tangan bagi pelakunya. Hal ini merupakan sanksi yang sangat keras untuk mencegah segala godaan untuk melakukan pelanggaran terhadap harta orang lain.
  • Pemeliharaan atas agama. Misalnya, syariat Islam memberikan kebebasan bagi setiap manusia untuk menjalankan ibadah sesuai kepercayaannya. Islam tidak pernah memaksakan seseorang untuk memeluk Islam. Akan tetapi, Islam mempunyai sanksi bagi setiap muslim yang murtad agar manusia lain tidak mempermainkan agamanya.

Penerapan Sistem Hukum Islam di Indonesia

Walaupun sebagian besar penduduknya beragama Islam, Indonesia tidak menerapkan hukum Islam sebagai hukum utamanya. Adapun perkembangan hukum Islam di tanah air sendiri sebenarnya sudah terjadi sejak zama dahulu, ketika Islam mulai dikenal oleh masyarakat nusantara di abad ke-13. Pasca-kemerdekaan, hukum Islam tidak banyak berkembang. Apalagi di masa Orde Baru. Pengekangan dan penyeragaman masyarakat membuat hukum ini sulit dipraktikkan. Misalnya, muslimah yang ingin berjilbab dkucilkan bahkan diberi stigma negatif. Hal ini memuncak ketika terjadi tragedi pembantaian umat muslim di Jakarta pada tahun 1980-an.

Era reformasi merupakan era kebangkitan dan kebebasan bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia; termasuk bagi masyarakat muslim. Hukum Islam dapat lebih mudah dipraktikkan pada beberapa aspek di kehidupan individual umat muslim. Daerah tertentu seperti Nangroe Aceh Darussalam diperbolehkan mengaplikasikan hukum Islam di kehidupan sehari-hari rakyatnya. Demikianlah penjelasan singkat mengenai keagungan sistem hukum Islam atau syariat Islam. Semoga bermanfaat!

Speak Your Mind

*