Suku Besar Dayak Lawangan

Suku Besar Dayak Lawangan merupakan suku besar yang menggabungkan beberapa Suku Dayak yang berasal dari rumpun Ot Danum. Penggabungan suku-suku ini didasari dengan kedekatan yang mereka miliki dari segi adat istiadat mau pun kebudayaan. Suku-suku yang dimaksud, yaitu, Suku Lawangan, Suku Pasir, Suku Bentian dan Suku Benuaq. Ada pun penjelasannya sebagai berikut:

1. Suku Bentian

Suku Bentian merupakan salah satu Suku Dayak dari rumpun Ot Danum yang termasuk sebagai Suku Besar Dayak Lawangan. Suku Bentian tersebar di dua kecamatan yaitu Kecamatan Bentian Besar dan Kecamatan Muara Lawa.

2. Suku Lawangan

Suku Lawangan adalah salah satu bagian dari kelompok barito (suku-suku dusun) yang ada di wilayah timur.  Suku-suku tersebut termasuk ke dalam Dayak Lawangan karena bagian dari rumpun Ot Danum. Suku Lawangan tinggal di bagian timur wilayah Kalimantan Selatan. Diperkirakan jumlah penduduk dari suku asli Lawangan yaitu sekitar 109.000 jiwa.

Suku ini mempunyai satu organisasi yaitu Dusmala. Organisasi ini menggabungkan 3 Suku Dayak, yakni Lawangan, Maanyan dan Dusun. Suku Dayak Lawangan berdasarkan subetnis terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu Suku Dusun Deyah, Suku Tawoyan, Suku Pasir, Suku Dayak Tunjung, Suku Dayak Bawo, Suku Dayak Bentian, dan Suku Dayak Benuaq.

3. Suku Pasir

Suku Pasir merupakan salah satu bagian dari Suku Dayak Lawangan dari rumpun Ot Danum. Suku ini tinggal di bagian tenggara wilayah Kalimantan timur. Agama yang dianut oleh suku ini sebagian besar adalah agama Islam. Mayoritas beragama Islam terlihat dari bangunan kerajaan Islam, yakni Kerajaan Sadungaras.

Suku Pasir menyebut dirinya sendiri dengan sebutan paser. Masyarakat paser telah mengakui bahwa dirinya merupakan  bagian dari Suku Dayak. Hal ini semakin diperkuat dengan bergabungnya lembaga adat dari Suku Paser dengan PDKT (Persekutuan Dayak Kalimantan Timur)

4. Suku Benuaq

Suku Benuaq merupakan salah satu anak dari Suku Dayak yang berada di wilayah Kalimantan Timur. Menurut beberapa pendapat dari para ahli, Suku Benuaq merupakan bagian dari Dayak Lawangan karena berasal dari rumpun Ot Danum di wilayah Kalimantan Tengah. Benuaq berasal dari kata Benua. Bila dilihat secara luas, benua adalah suatu daerah atau wilayah teritori tertentu, misalnya sebuah negara. Sementara, pengertian secara sempitnya adalah daerah atau tempat tinggal dari sebuah komunitas/ kelompok.

Asal usul nama Benuaq merupakan sebutan atau istilah yang dibuat oleh orang Kutai. Sebutan ini digunakan untuk membedakan Suku Benuaq dengan kelompok Dayak yang ada lainnya. Saat ini budaya nomaden secara perlahan sudah ditinggalkan oleh orang Benuaq.

a. Penyebaran Geografis Suku Dayak Benuaq

Suku Dayak Benuaq tinggal di pedalaman Kalimantan Timur yaitu di sekitar daerah Danau Jempang atau wilayah Sungai Kedang Pahu. Suku Benuaq merupakan etnis mayoritas yang tinggal di wilayah Kalimantan Timur tepatnya Kutai Barat. Masyarakat Benuaq tersebar di beberapa kecamatan, antara lain:

•    Kecamatan Tenggarong Seberang
•    Kecamatan barong tongkok
•    Kecamatan Mook Manar Bulatan
•    Kecamatan Bentian Besar, Kecamatan Nyuwatan
•    Kecamatan Damai
•    Kecamatan Muara Lawa
•    Kecamatan muara Pahu
•    Kecamatan Siluq Nguai
•    Kecamatan Jempa
•    Kecamatan Bongan
•    Kecamatan Jongkang
•    Kecamatan Perjiwa
•    Kecamatan Pondok Labu
•    Kecamatan Jonggon

Mayoritas masyarakat Benuaq yang tinggal di Kutai Barat membuat putra Dayak Benuaq sebagai bupati pertama di Kutai Barat.

b. Kekerabatan Orang Benuaq dengan Orang Kutai

Menurut pendapat yang ada, nama Kutai bukan identitas dari suatu etnis melainkan menunjukan suatu teritori. Entah bagaimana sejarah awalnya yang membuat Kutai dianggap sebagai istilah dari orang-orang Benuaq.

Saat ini etnis Kutai tinggal di pedalaman Mahakam bernama Kota Bangun. Berdasarkan catatan sejarah yang ada, para penjajajah dari bangsa Belanda dulu tinggal di wilayah tersebut. Di Kota Bangun mereka memiliki rumah yang bertiang tinggi dan memelihara babi.

Istilah Kota Bangun yang benar menurut orang Benuaq yaitu Kutaq bangun. Dalam bahasa Benuaq, Kutaq berarti tuan rumah.

c. Sistem Kepercayaan

Secara umum, kepercayaan yang ada pada nenek moyang di Indonesia adalah Dinamisme dan Animisme. Menurut orang Suku Dayak, terutama yang memiliki kepercayaan Dayak Benuaq, yakin bahwa alam beserta isinya dan semua mahluk hidup yang diciptakan mempunyai perasaan dan roh, kecuali akal. Akal hanya diberikan kepada manusia, sedangkan hewan dan tumbuhan tidak.

Dengan demikian, Suku Dayak Benuaq memperlakukan tumbuh-tumbuhan dan hewan dengan penuh kasih sayang. Hal ini mereka lakukan karena keduanya merupakan bagian dari alam semesta. Orang Benuaq memiliki kepercayaan bahwa perbuatan yang terpuji akan mendatangkan anugerah. Sedangkan, perbuatan tercela akan mendatangkan malapetaka. Tidak heran perilaku arif dan bijaksana mereka tanamkan dalam mengelola alam beserta isinya.

Walau pun sepintas orang Benuaq seperti menganut kepercayaan polytheisme, namun mereka percaya bahwa yang menciptakan dan mengendalikan alam semesta ini ialah penguasa tunggal yakni Letalla.

Kepercayaan di masyarakat asli Benuaq sangat erat kaitannya dengan patung. Namun, seringkali terjadi kesalahpahaman atas fungsi yang sebenarnya dari patung tersebut. Anggapan yang salah ini datang dari para ahli yang meneliti, mereka pikir patung yang dibuat untuk penyembahan bagi suku asli Benuaq. Kesalahan persepsi ini menyebabkan masyarakat Benuaq disebut sebagai suku penyembah berhala.

Memang benar banyak patung yang telah dibuat oleh masyarakat Benuaq. Fungsi patung bukan untuk dipuja atau pun disembah, melainkan untuk diludahi. Setiap orang yang melewati patung-patung tersebut diharuskan untuk meludahinya.

Selain itu, ada juga patung yang dibuat untuk mengelabui mahluk halus atau roh jahat agar tidak mengganggu manusia. Jadi, patung yang ada di Suku Benuaq ini dibuat sebagai wujud tanda peringatan supaya selalu berbuat baik dan menjauhi segala larangan yang ada.

d. Sistem Sosial dan Adat Istiadat

Masyarakat Benuaq bila dilihat dari segi sistem kekerabatannya,menganut sistem matrilineal. Di dalam pengelolaan alam termasuk mahluk hidup yang ada, harus sesuai dengan tatakrama dan adat istiadat yang telah nenek moyang wariskan kepada mereka. Tatkrama dan adat istiadat yang nenek moyangnya wariskan berasal dari perjalanan kehidupan Suku Benuaq di bumi.

Sistem adat yang ada menurut orang asli Benuaq adalah petujuk langsung dari Letalla bukan dari hasil budaya. Petunjuk tersebut bisa melalui para seniang atau pun mimpi. Suku Benuaq percaya bahwa sistem adatnya telah ada terlebih dahulu dibandingkan dengan negaranya.

Oleh sebab itu, masyarakat Benuaq tidak bisa menerima secara langsung aturan yang ada di negara. Aturan tersebut akan melenyapkan aturan adat istiadat yang ada di suku Benuaq secara perlahan. Suku Dayak Benuaq mempunyai 5 tiang atau pilar adat, yaitu Terasi, Suket, Timekng, Purus, dan Adet.

Kelima pilar adat yang ada merupakan pegangan yang harus dijalankan oleh Suku Benuaq dalam adat istiadatnya. Apabila ketidakadilan terjadi, kekacauan di bumi tidak bisa dihindarkan lagi. Pemangku adat yang mempunyai kekuasaan dan tanggungjawab yang besar juga harus menjaga segala perilakunya.

Apabila terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh pemangku adat baik sengaja atau pun tidak akan mendapatkan sanksi. Sanksi tersebut adalah hukuman berupa kutukan dari Nayuk Seniang. Kutukan ini bisa berupa kematian secara perlahan atau mendadak. Selain itu, bisa juga berupa malapetaka yang akan datang terus menerus dalam kehidupannya.

e. Tanah Adat (Tanah Ulayat)

Alam beserta isinya termasuk hutan, merupakan benda adat bagi Suku Benuaq. Hal ini lah yang mendasari  segala pengelolaan alam harus sesuai dengan sistem adat yang ada. Zaman yang paling buruk dialami oleh Suku Dayak Benuaq yaitu ketika orde baru. Hutan yang merupakan bagian dari kehidupan mereka disingkirkan dari orang Benuaq. Pemisahan ini berdalih pada undang-undang agraria yang ada. Hutan yang merupakan sumber utama penghidupan mereka lenyap begitu saja.

Namun, saat ini mereka sudah bisa mengelola hutan seperti dulu. Hal ini didasari dengan pengelolaan yang telah dilakukan oleh orang Benuaq yang lebih baik dibandingkan pengelolaan pemerintah.

Begitu dekatnya suku Benuaq dengan alam membuat mereka menjaganya dengan sebaik-baiknya.

Sekian artikel Suku Besar Dayak Lawangan. Semoga ini bisa memperkaya pengetahuan dan wawasan para pembaca.

Speak Your Mind

*