Suku Karo

Suku Karo – Pernahkah Anda mendengar nama marga berikut, Sembiring, Tarigan, Ginting, Peranginangin, dan Karokaro. Ya. Itulah lima nama marga yang terdapat pada suku Karo. Suku Karo yang sering juga disebut Batak Karo adalah salah satu suku asli Sumatera Utara.

Suku Karo

Wilayah Suku Karo

Suku ini mendiami daerah bernama Dataran Tinggi Karo yang berada di Kabupaten Karo. Mereka mempunyai bahasa daerah sendiri yang disebut bahasa Karo. Meskipun demikian, wilayah suku Karo sebetulnya tidak terbatas pada Kabupaten Karo. Wilayah yang didiami suku ini mencakup beberapa wilayah berikut ini.

  • Kabupaten Karo

 Kabupaten Karo berada di dataran tinggi Tanah Karo. Sebagian besar suku Karo tinggal di daerah pegunungan ini, yaitu di daerah Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung.

Kota yang terkenal dari Kabupaten Karo adalah Kabanjahe dan Brastagi. Brastagi merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Sumatera Utara. Kota ini juga terkenal dengan hasil pertanian markisa dan olahan sirupnya yang tersohor ke seluruh wilayah Indonesia.

  • Kabupaten Dairi

Kabupaten ini juga didiami suku Karo, terutama pada tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Taneh Pinem, Kecamatan Tiga Lingga, dan Kecamatan Gunung Sitember. Kabupaten Dairi terkenal sebagai penghasil kopi yang berkualitas.

  • Kota Medan

Di kota Medan juga banyak ditemui suku Karo. Bahkan, konon, pendiri kota Medan adalah seorang putra Karo bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi.

  • Kota Binjai

Keberadaan suku Karo di kota Binjai tidak terlepas dari letak kota ini yang berdekatan dengan Medan, sehingga terjadi interaksi erat antara keduanya.

Sistem Kekerabatan

Suku Karo memiliki sistem marga (klan). Sebutan marga (masyarakat Karo menyebutnya merga) ditujukan untuk laki-laki yang menyandangnya, sedangkan untuk wanita disebut beru. Marga atau beru disematkan di belakang nama seorang laki-laki atau perempuan yang menyandangnya.

Suku Karo memiliki lima marga atau beru, seperti disebutkan di awal tulisan. Setiap anak Karo yang lahir, otomatis memperoleh salah satu dari kelima marga tersebut dari ayahnya. Suku Karo menganut sistem kekerabatan patrilineal, yaitu sistem kekerabatan berdasarkan garis keturunan ayah.

Semua orang Karo yang menyandang marga yang sama. Oleh karena itulah, dianggap berasal dari nenek moyang yang sama. Oleh karena itu, mereka adalah bersaudara. Sesama pria atau sesama perempuan Karo yang bermarga sama, disebut bersenina.

Jika seorang pria Karo bermarga sama dengan seorang perempuan Karo, mereka disebut erturang dan tidak boleh melakukan perkawinan. Namun, ada pengecualian untuk marga Sembiring dan Peranginangin, mereka ada yang boleh menikah.

Makanan Unik

Masyarakat Karo memiliki makanan khas dan sangat unik yang disebut tritesTrites diolah dari bahan isi lambung kerbau atau sapi yang belum dikeluarkan sebagai kotoran. Isi lambung ini dimasak sedemikian rupa dicampur rempah-rempah sehingga aroma tidak sedap dari isi lambung tersebut hilang dan berganti menjadi penganan yang lezat untuk dinikmati.

Panganan ini merupakan suguhan yang diberikan untuk mereka yang dihormati. Biasanya, disajikan pada acara memasuki rumah baru, pesta pernikahan, pesta budaya, dan pesta tahunan.

Pakaian Adat

Di samping masakan yang unik, suku Karo memiliki pakaian adat yang khas. Pakaian adat suku Karo didominasi oleh warna merah dan hitam yang dipenuhi perhiasan emas.

Alat Musik

Gendang karo merupakan alat musik tradisional Suku Karo. Biasanya, alat musik ini disebut Gendang “Lima Sedalinen. Gendang “Lima Seladinen” artinya seperangkat gendang tari yang terdiri atas lima unsur.

Unsur yang dimaksud terlihat dari beberapa alat musik tradisional karo, seperti Kulcapi, Keteng-keteng, Surdam, Balobat, Serune, Gendang si ngindungi, Penganak, dan Gung. Alat-alat musik tradisional tersebut sering digunakan untuk menari, menyanyi, dan berbagai ritual tradisi lainnya.

Jadi, Gendang Karo bisa dikatakan sudah lengkap jika ada Serune, Gendang si ngindungi. Penganak, Balobat, Surdam, dan Gung dalam mengiringi sebuah upacara atau pesta. Meskipun begitu, saat ini perkembangan musik Suku Karo telah terkontaminasi dengan alat musik modern semacam keyboard.

Era masuknya musik keyboard saat ini sudah mendominasi kesenian Karo. Tidak heran, jika saat ini timbul anggapan bahwa keyboard menjadi bagian dari alat musik Suku Karo.

Tarian Tradisional

Suku Karo juga memiliki beberapa tarian tradisional. Yang terkenal ada tiga tari, yaitu tari piso surit, tari lima serangkai, dan tari terang bulan.

Aksara Karo

Bukan hanya itu, suku Karo pun memiliki aksara tersendiri yang disebut aksara Karo. Aksara Karo merupakan aksara yang cukup lengkap dan memenuhi syarat sebagai sebuah aksara. Namun sayang, aksara ini sekarang sudah jarang dipergunakan sehingga banyak generasi muda Karo yang tidak memahaminya.

Kebudayaan

Merdang merdem (kerja tahunan) merupakan sebuah perayaan Suku Karo di Kabupaten Karo. Merdang merdem adalah kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun. Kegiatan ini diselenggarakan setelah acara menanam padi di sawah selesai.

Perayaan yang dilakukan masyarakat Karo ini adalah wujud dari ucapan rasa syukur kepada sang Pencipta, karena kegiatan menanam padi telah selesai. Kegiatan perayaan ini dilakukan dengan iringan dia, supaya tanaman padi tersebut diberkati dan dibebaskan dari segala hama. Dengan begitu, masyarakat Karo akan menghasilkan panen padi yang berlimpah.

Momen yang melibatkan seluruh warga kampung ini, biasanya dimanfaatkan oleh muda mudi sebagai ajang pencarian jodoh. Setiap acara merdang merdem biasanya dimeriahkan dengan gendang guro-guro aron. Guro-guro aron merupakan acara tari tradisional Karo yang melibatkan pasangan muda mudi.

Setiap kecamatan di Tanah Karo, merayakan merdang merdem pada bulan yang berbeda. misalnya saja, Kecamatan Munte merayakan merdang merdem pada hari ke-26 di kalender Karo. Biasanya hari tersebut jatuh di bulan Juli.

Konon, pesta sekampung tersebut begitu meriahnya, sehingga lama perayaannya bisa mencapai enam hari. Dalam setiap harinya mempunyai makna yang berbeda.

  • Hari pertama, cikor-kor

Hari cikor-cikor merupakan bagian awal dari persiapan menyembut merdam merdem. Persiapan ini ditandai dengan kegitan mencari kor-korKor-kor adalah sejenis serangga yang biasanya ada di dalam tanah.Umumnya, kor-kor bisa ditemukan dengan mudah di bawah pepohonan.

Di hari pertama perayaan merdam merdeng, semua penduduk harus pergi ke ladang untuk mencari kor-kor. Nantinya, kor-kor akan dijadikan sebagai makanan lauk pauk di hari tersebut.

  • Hari kedua, cikurung

Hari kedua ditandai dengan kegiatan mencari kurung di ladang atau sawah. Kurung merupakan binatang yang hidup di tanah basah (sawah). Hewan ini juga nantinya akan dijadikan lauk pauk oleh masyarakat Karo.

  • Hari ketiga, ndurung

Pada hari ketiga ditandai dengan kegiatan mencari nurungNurung adalah sebutan untuk ikan yang hidup di sawah atau sungai. Pada hari itu penduduk satu kampung makan dengan nurung. Ikan yang biasanya ditangkap adalah  nurung mas. Nurung mas adalah ebutan untuk ikan jenis lele.

  • Hari keempat, mantem atau motong

Hari keempat adalah sehari menjelang hari perayaan puncak. Pada hari keempat, penduduk kampung memotong lembu, babi, dan kerbau untuk dijadikan lauk.

  • Hari kelima, matana

Hari kelima disebut juga hari matana (puncak perayaan). Pada hari kelima, semua penduduk kampung saling mengunjungi kerabatnya. Setiap kali berkunjung, semua menu yang sudah dikumpulkan sejak hari cikor-cikorcikurungndurung, dan mantem dihidangkan.

Pada hari kelima tersebut, semua penduduk bergembira. Hal ini dikarenakan, panen sudah berjalan dengan baik. Selain itu, kegiatan menanam padi juga telah selesai dilaksanakan. Biasanya, pusat perayaan itu diselenggarakan di alun-alun atau disebut dengan losLos adalah semacam balai tempat perayaan pesta.

  • Hari keenam, nimpa

Hari keenam ditandai dengan kegiatan membuat cimpaCimpa merupakan makanan khas Karo yang biasa disebut lepat. Bahan dasar untuk membuat cimpa adalah tepung terigu, gula merah, dan kelapa parut.

Kehadiran cimpa dalam merdang merdem bukan hanya sebagai makanan tambahan, melainkan lebih dari itu. Tidak lengkap rasanya perayaan merdang merdem tanpa hidangan cimpa.

  • Hari ketujuh, rebu

Hari rebu adalah hari terakhir dari serangkaian pesta enam hari sebelumnya. Pada hari ketujuh ini tidak ada kegiatan yang dilakukan. Para tamu juga sudah kembali ke tempat asalnya.

Dengan begitu, acara kunjung-mengunjungi telah selesai. Semua penduduk hanya berdiam diri di rumah. Bahkan, untuk pergi ke sawang atau ladang pun dilarang pada hari itu.

Jadi, hari rebu adalah hari untuk menenangkan diri untuk menyambut hari esok. Hari baru bagi masyarakat Karo untuk memulai hidup lebih baik lagi.

Demikianlah artikel mengenai Suku Karo. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Speak Your Mind

*