Suriname

Republik Suriname terkenal dengan orang Jawa yang banyak bermukim di sana, bahkan negara ini sering disebut sebagai “Indonesia Sebelah Barat”. Sebenarnya bagaimana sejarah Suriname dan apa hubungannya dengan Indonesia dan orang-orang Jawa? Simak tulisan berikut ini!

Sejarah Suriname

Sejak abad ke-15, kawasan Suriname mulai dikenal secara luas. Kolonialisme bangsa-bangsa Eropa mulai berekspansi ke Guyana, sebuah dataran luas yang terletak di antara Samudera Atlantik, Rio Negro, Sungai Amazon, Sungai Orinoco, dan Sungai Cassiguiare.

Motivasi bangsa-bangsa Eropa itu menguasai Guyana adalah untuk mencari tambang emas yang dalam sebuah cerita fiktif legendaris “El Dorado” diceritakan banyak berada di wilayah Guyana. Motivasi itulah yang nantinya membawa mereka menemukan Suriname.

Pantai timur laut Amerika Selatan pada abad ke-15 dikenal dengan sebutan “Wild Coast”. Pelaut asal Spanyol, adalah Alonzo de Ojeda dan Juan de la Cosa yang berlayar melintasi wild coast dan berlabuh di Guyana. sejak saat itu penjajahan atas bumi Guyana berlangsung silih berganti hingga abad ke-17 antara Spanyol, Belanda, Inggris, Perancis, dan Portugal. Mereka adalah bangsa-bangsa penjajah yang ikut andil dalam cerita sejarah Suriname.

Belanda membangun pusat perdagangan pertama di Guyana pada 1530. Kekuasaan Belanda kemudian diambil alih oleh raja Spanyol pada 1593. Kekuasaan mereka bertahan hingga 1959 saja. Inggris, kemudian berkuasa atas dataran ini. Meski demikian, Belanda masih menguasai perdagangan dan secara bertahap berekspansi di daerah pedalaman. Dua negara ini seperti tak ingin ketinggalan dalam setiap sejarah, pun dengan sejarah Suriname.

Pada 1639, Belanda kembali merebut Guyana, sementara Perancis juga datang dan menguasai kawasan di pinggir sungai Suriname. Banyaknya negara barat yang berkuasa atas wilayan ini membuat Guyana terpecah menjadi beberapa bagian, yaitu Francesa (Cayenne), Portuguesa (bagian dari wilayah Brazil), Guyana Espanola (bagian dari Venezuela sekarang), Holandesa (Suriname), dan Inglesa (Guyana sekarang).

Suriname sendiri berada di bagian tengah, berada di antara koordinat dua derajat hingga enam derajat Lintang Utara, dan antara 54 dearajat dan 58 derajat Bujur Barat. Luas Suriname kurang lebih 163.265 kilometer persegi. Suriname berbatasan dengan Sungai Marowijne di bagian timur, Pegunungan Acarai dan Toemoe hoemak yang membatasi bagian selatan, Sungai Corantijne yang membatasi bagian barat, dan garis pantai Samudera Atlantik membatasi bagian utara.

Perang memperebutkan wilayah Guyana lama dan Suriname terus terjadi, khususnya antara Inggris dan Belanda. Pada 1651, Suriname ditundukkan Ingrris dan menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Inggris, namun berakhir dengan perjanjian Breda pada 1667 yang menyatakan bahwa wilayah Suriname menjadi bagian dari kekuasaan Belanda.

Inggris berusaha menduduki kembali wilayah Suriname dan kemudian wilayah ini dijadikan daerah protektorat Inggris pada 1799-1802. Namun, direbut kembali oleh Belanda. Inggris masih juga belum mau menyerah, dan kembali berkuasa. Inggris lalu menjadikan Suriname sebagai koloni Inggris yang terkenal dengan istilah the British Interregnum.

Di bawah kekuasaan Inggris, Suriname mengalami krisis ekonomi yang cukup kritis. Salah satu penyebabnya adalah adanya UU yang melarang perdagangan budak, padahal banyak kebun-kebun di wilayah Suriname membutuhkan banyak tenaga kerja. Atas hal itu, pada 1814 wilayah Suriname kembali diserahkan ke Belanda.

Pemerintah Belanda dan Inggris kemudian sepakat mendatangkan tenaga kerja atau imigran dari luar ke Suriname. Rombongan-rombongan imigrasi besar-besaran kemudian didatangkan dari India dan Jawa antara 1873-1939.

Antara Jawa Suriname

Akibat imigrasi besar-besaran itu, kini banyak ditemukan orang keturunan Jawa yang bermukim di sana. Pada 1990 berdasarkan sensus penduduk, tercatat sekira 18% pendudukSuriname adalah orang Jawa. Jumlah penduduk Suriname secara keseluruhan kurang lebih 480 ribuan orang.

Orang-orang Jawa yang diangkut ke Suriname itu datang sebagai kuli kontrak dan ditempatkan untuk bekerja di perkebunan gula dan kayu. Orang-orang Jawa yang kemudian menetap dan membangun keluarga di sana itu kemudian sering disebut sebagai “Jawa Suriname”.

Sebenarnya tidak hanya suku Jawa yang diangkut ke sana pada waktu itu, ada pula orang-orang dari suku Madura, Batak, Sunda, dan suku-suku lainnya, tapi memang suku Jawa mendominasi jumlahnya. Orang-orang Indonesia yang datang ke Suriname itu tentunya bukan atas kemauan sendiri, sebagian besar dari mereka dipaksa dan bahkan diculik dari desa-desa.

Ketika populasi orang Jawa di Suriname semakin menyebar dan berkembang, terdapat pula nama-nama khas Jawa yang digunakan sebagai nama daerah di Suriname, seperti Tamanredjo dan Tamansari. Bahkan penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari pun masih dilestarikan di sana.

Ketika bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 1945, banyak orang Jawa Suriname yang kembali ke ibu pertiwi. Namun ada pula yang memilih menetap di sana, dan sebagian memilih ikut pindah ke Belanda. Seperti halnya mayoritas penduduk Jawa beragama Islam, orang-orang Jawa di tanah Suriname pun mayoritas juga beragama Islam.

Orang-orang Jawa di tanah perantuan Suriname ini datang dengan kapal-kapal, dan mereka membuat adat yang unik, yaitu orang-orang yang datang sekapal dianggap saudara sehingga dilarang saling menikah. Jika ingin menikah harus mencari pasangan dari kapal lain.

Topografi dan Flora dan Fauna Suriname

Wilayah Suriname memiliki topografi yang secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga, yaitu daerah pantai atau pesisir, daerah Savana, dan daerah dataran tinggi

Di daerah Savana, kondisi tanahnya gersang dan tertutup pasir. Tidak bisa ditanami pepohonan dan hanya rumput-rumput tertentu saja yang bisa hidup di kawasan itu. Sementara itu, dataran tinggi banyak terdapat di bagian selatan yang berbatasan dengan Brazil.

Kawasan ini sebagian tertutup hutan tropis dan menghasilkan kayu keras yang memiliki kualitas terbaik. Kekayaan flora dan fauna di Suriname sangat kaya. Sebagian besar wilayah Suriname berupa hutan belukar dan ditanami dan dihuni aneka jenis tumbuhan dan satwa. Kayu keras yang banyak dihasilkan di hutan tropis di sana antara lain Purplehard, Bruinhard, dan Zwartekabes. Hasil ekspor kayu-kayu berkualitas terbaik itu menjadi sumber devisa yang besar bagi Suriname.

Kuliner Khas Suriname

Mengingat banyaknya populasi suku Jawa di Suriname, maka banyak masakan Jawa yang juga masih lestari di sana, hanya saja rasanya sedikit berbeda karena menyesuaikan dengan bumbu-bumbu yang ada di sana. Misalnya saja pecel, gado-gado, sate, dan nasi goreng masih bisa kita temukan di sana.

Sementara masakan khas Suriname sendiri antara lain phulawsi, pannekock, halwa, dan moksi aleri atau masakan semacam nasi campur. Ada pula masakan yang dinamakan telo ikan asin. Masakan ini menggunakan bahan baku singkong sebagai alternatif untuk menggantikan penggunaan nasi.

Berikut bahan telo ikan asin dan cara memasaknya untuk 1 porsi.

Bahan yang dibutuhkan antara lain, 350 g ikan asin (dianjurkan menggunakan ikan jambal roti karena terkenal enak, atau ikan lain sesuai selera), 2 buah singkong 2 cabe hijau, atau bisa juga diganti cabai rawit bagi Anda yang suka selera pedas garam secukupnya 1 bawang bombai, iris halus 3 sdm minyak untuk menumis 3 tomat ukuran sedang, iris sedang 1 ketimun, iris bulat

Cara membuatnya adalah, rendam ikan asin dalam air panas, saring ikan asin dan remas dengan tangan hingga hancur, tumis irisan bawang dan cabai, aduk hingga layu, dan masukkan ikan yang sudah halus, kemudian masukkan irisan tomat, aduk hingga layu, tutup wajan, dan biarkan di atas api sedang hingga agak kering. Sementara itu, Anda bisa merebus singkong selama 20 menit, tambahkan garam untuk memberi rasa, angkat singkong rebus, potong kecil-kecil, campurkan singkong yang telah dipotong-potong ke dalam masakan ikan, aduk hingga merata-Hidangkan selagi hangat dengan irisan tomat dan mentimun.

Moto Republik Suriname

Justitia – Pietas – Fides dalam bahwa Latin artinya keadilan, kesederhanaan, dan loyalitas. Lagu kebangsaan Suriname adalah God zij met ons Suriname. Sementara itu, ibu kotanya adalah Paramaribo. Bahasa resmi dari negara ini adalah Belanda, sedangkan bentuk pemerintahannya adalah republik. Negara Suriname merayakan kemerdekaannya tiap 25 November. Negara ini merdeka pada 1975. Lalu, diberikan oleh Belanda wilayah seluas 163,270 km2 (90. Dan mata uangnya adalah Dolar Suriname.

Speak Your Mind

*