Tauhid

Tauhid adalah fondasi utama akidah umat Islam. Ia adalah ruh yang membedakan kepribadian Muslim dengan yang lainnya. Pandangan tauhid adalah pandangan bagaimana mengesakan Allah swt. sebagai satu-satunya sesembahan dan hanya Dia tempat bergantung. Artinya, Allah adalah titik sentral dalam gerak dan perilaku umat Islam.

Mari sejenak kita lihat pohon-pohon kelapa yang ada di tepi pantai. Bila badai datang, pohon kelapa meliuk-meliuk seakan-akan tidak kuat menahan dan tanah yang menjadi pijakan kelapa tidaklah begitu kuat.

Namun, mengapa kelapa tidak tumbang meski kondisi alam sedemikian rupa? Jawabnya karena kelapa memiliki akar serabut yang menghujam mencengkeram pasir-pasir bumi. Akar kelapa adalah fondasi yang membuat kelapa kokoh dan tegar dari cuaca dan kondisi buruk sekalipun. Begitu juga halnya dengan kaum Muslim yang memiliki tauhid mendalam. Ia tidak akan mudah terbawa arus kapan dan dimanapun ia berada.

Perkara tauhid bukan hal main-main. Sejarah para rasul dan nabi menceritakan kepada kita bahwa misi mereka semua adalah misi tauhid, yaitu misi mengesakan Allah swt. dan tidak ada sekutu baginya. Artinya, manusia di pentas dunia ini harus dan wajib mengimani ketunggalan Allah swt.

Tidak tanggung-tanggung, bahkan Allah mengancam orang yang menyekutukan-Nya dengan dosa besar. Dalam surat an-Nisa Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni orang yang menyekutukannya (syirik), dan Dia mengampuni segala dosa yang selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” 

Keimanan kepada Allah adalah persoalan besar yang harus ditanamkan pada diri manusia. Tauhid merupakan pokok pangkal keimanan seseorang kepada Allah swt. Dari tauhid, manusia akan tahu siapa yang berhak disembah, ditaati, dan kemana muara perbuatan akan berlabuh.

Tiga belas tahun rasulullah di Mekah menanamkan nilai-nilai tauhid kepada masyarakatnya. Karena selama masyarakat belum memiliki tauhid yang kuat, maka selama itu pula dakwah dan misi Islam tidak akan pernah tercapai. Bagaimana seseorang mau meninggalkan perbuatan munkar dan mengerjakan hal-hal kebajikan jika seseorang itu tidak yakin atas keillahian Allah sebagai sang pencipta.

Kalimat tauhid La ilaha ilallah” adalah kalimat pembebasan bagi umat manusia, dari setiap penghambaan yang tidak layak dilakukan oleh makhluk yang mulia. Tauhid membebaskan kepribadian dari belenggu keberhalaan yang tidak dapat memberi apa pun kepada manusia.

Kalimat tauhid merupakan kalimat kekuatan, motivasi, dan daya dorong bagi kaum muslimin untuk melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Orang yang bertauhid tidak akan pernah takut menghadapi dan menjalani pahit dan kejamnya dunia. Ia senantiasa mengimani dan menyandarkan diri bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong. Ia tidak membutuhkan bantuan palsu manusia. Tidak tergoda oleh syahwat dunia yang bertentangan dengan keinginan sang pencipta.

Sejarah telah menyaksikan lahirnya manusia-manusia besar yang pernah mengubah perjalanan dunia dengan gemilang, makmur, dan penuh moral. Kita menyaksikan generasi-generasi awal Islam yang lahir dari rahim tauhid. Aba Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib merupakan manusia-manusia raksasa yang telah menghiasi sejarah dunia dengan tinta emas.

Di bawah kepemimpinan Umar, imperium persia dan Romawi Timur takluk di dalam genggamannya. Palestina begitu mudah bagi Umar untuk dibebaskan. Meski begitu, ia tetap orang yang bersahaja, tidak memiliki istana, dan sangat ketakutan bila rakyatnya kelaparan serta senantiasa menjaga diri dari perilaku maksiat dan munkar. Kepribadian Umar adalah buah manis dari tauhid yang telah mendarah daging dalam jiwanya.

Pembagian Tauhid

Tauhid merupakan perkara pokok dalam ajaran Islam. Mempelajari tauhid adalah fardhu ain bagi setiap muslim, karena tauhid adalah inti ajaran Islam. Para ulama membagi tauhid menjadi tiga bagian yang tidak boleh dipisahkan satu sama lainnya.

Tauhid Rububiyah

Artinya, percaya dan yakin bahwa Allah swt. adalah satu-satunya pengatur semesta jagad raya. Tidak ada sekutu bagi Allah dalam mengatur seluruh kehidupan yang ada. Islam tidak membenarkan keimanan pada dewa-dewa, yang satu sebagai pencipta dan yang lain sebagai penghancur.

Allah adalah tunggal dan hanya dia yang mengatur, mencipta, menghidupkan, mematikan, membinasakan, memberi rezeki, dan lain sebagainya. Karena jika ada dua Tuhan, maka akan binasa dunia ini. Bagaimana tidak, satu Tuhan mengingankan kemakmuran, dan Tuhan yang lain menghancurkan. Maka keinginan-keinginan Tuhan yang bertentangan itu akan membuat kehidupan kacau balau.

Tauhid ini mengajarkan bahwa ritme dan gerak kehidupan manusia sepenuhnya dalam kendali Allah swt. Manusia tidak pantas menunduk-nunduk hina di hadapan orang lain, berbuat tidak pantas dan terlarang demi mencukupi kebutuhannya. Hanya Allah saja tempat bergantung.

Kesuksesan dan kebahagiaan sejati adalah ketika seseorang meyakini dengan pasti bahwa yang memberinya kebahagiaan bukan orang lain namun Allah swt. Dengan begitu ia akan menjadi manusia bebas dan merdeka dari segala bentuk ketertundukan kepada manusia yang lain. Terlepas dari bayang-bayang “balas budi” yang suatu saat dapat saja dimanfaatkan untuk mengikat dan menekannya.

Seringkali kita lihat, seseorang menjadi tidak kuasa menolak atau mencegah perbuatan munkar disebabkan dirinya telah termakan budi orang lain. Misalnya, seorang tetangga yang banyak dibantu dan ditolong oleh tetangganya akan merasa sungkan memberi nasihat atau mencegah perbuatan munkar tetangga yang banyak menolongnya itu.

Tauhid Uluhiyah

Artinya hanya Allah semata yang wajib dan pantut untuk disembah. Tidak ada sekutu baginya. Segala perbuatan dan kebajikan hanya kepada Allah semata ditujukan. Bukan untuk atasan, kekasih, tetangga, ataupun untuk menarik simpati masyarakat.

Oleh karena itu, segala bentuk ibadah, salat, puasa, zakat, haji, dan kebajikan lainnya mesti diikhlaskan semata-mata hanya untuk Allah swt. karena ibadah dan kebajikan yang ditujukan kepada selain Allah akan menjadi sia-sia belaka.

Di zaman modern, orang mungkin tidak menunduk atau sujud lagi pada patung. Namun penyembahannya sudah beralih kepada hal-hal lain seperti ketenaran, harta, prestise, karier, dan hobi. Kecintaannya pada hal-hal tersebut melebihi cintanya pada Allah swt. dan berupaya sedemikian rupa untuk meraihnya tanpa menghiraukan rambu-rambu yang dibuat Allah swt. Yang menjadi tujuan bukan Allah lagi, tapi materi dan syahwat.

Tauhid Asma’ dan Sifat

Tauhid ini hanya menyifati Allah swt. dengan nama dan sifatnya yang termaktub dalam Alqur’an dan sunnah. Nama dan sifat tersebut hanya untuk Allah swt. semata.

Asmaul husna (nama-nama indah Allah) tidak boleh disandangkan kepada selain Allah swt. Hanya Dialah ar-Rahman, al ‘Alim, al-Jabbar, dan lain sebagainya. Nama dan sifat tersebut hanya milik dan ‘identitas’ pribadi Allah semata. Karena Allah berfirman, “Tidak ada sesuatu yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Asy-Syuro:11)

Hal-Hal yang Merusak Tauhid

Perkara yang dapat merusak tauhid seseorang adalah perbuatan syirik. Syirik itu terbagi pada tiga bagian, yaitu:

  1. Syirik akbar (besar) – Syirik ini dapat menggugurkan seluruh amal yang telah diperbuat seseorang. Allah berfirman, “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah amalan-amalan yang telah mereka kerjakan”. (Q.S. al-An’am: 88). Contoh pebuatan syirik akbar adalah berdo’a kepada orang-orang yang sudah meninggal, kepada berhala, meminta pertolongan, dan memberi sesajian. Perbuatan ini mendapat ancaman yang berat dari Allah swt. Dalam surat al-Maidah Allah menjelaskan, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga, yang tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” Dan tentu, syirik ini dapat menghancurkan tauhid seseorang.
  2. Syirik asghar (kecil) – Perbuatan yang dikategorikan Alqur’an dan sunnah sebagai syirik, namun dalam bentuk syirik kecil. Contoh syirik asghar di antaranya adalah riya’, bersumpah dengan nama selain Allah, dan lain sebagainya. Rasulullah saw. menjelaskan perbuatan ini dalam sabdanya, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil. Maka beliau ditanya mengenai syirik tersebut. Beliau menjawab: yaitu riya’.” (H.R. Imam Ahmad)Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang bersumpah dengan sesuatu selain Allah maka ia telah berbuat syirik.” (H.R. Imam Ahmad).
  3. Syirik khafiy (tersembunyi). Rasulullah bersabda, “Maukah kamu aku beritahukan apa yang paling aku takutkan menimpa kamu, lebih dari Dajjal?”, beliau bersabda, “ syirik khafiy, yaitu seseorang berdiri untuk sholat lalu ia membagus-baguskan sholatnya, karena ia melihat ada orang yang sedang memperhatikannya.” (H.R. Imam Ahmad)

Sebenarnya syirik itu dapat saja dibagi menjadi dua, yaitu syirik akbar(besar) dan asghar (asghar). Adapun syirik khafiy dapat saja dimasukkan dalam salah satu syirik tadi, tergantung kategori besar atau kecilnya syirik yang ia lakukan dalam keadaan samar atau tersembunyi.

Perbuatan syirik-syirik di atas dapat merusak tauhid seseorang. Tentunya, tauhid tidak pernah bisa bertemu dengan kesyirikan. Orang yang melakukan perbuatan syirik berarti ia melenyapkan tauhid yang ada pada dirinya.

Speak Your Mind

*