Telaah Lirik Lagu di Kancah Musik Indonesia

Ilustrasi lirikMenjadi kreatif di dalam berbagai musik tentu saja merupakan anugerah yang tidak mudah untuk didapatkan setiap orang. Ada yang memang mendapatkannya sebagai bakat sejak lahir, ada pula yang mendapatkannya justru setelah dewasa berkat kerja kerasnya dalam mengasah kreativitas tersebut.

Di dalam bidang seni, kreativitas sama halnya dengan modal utama dalam proses bisnis. Seseorang bisa menghasilkan karya yang besar apabila memiliki tingkat krativitas yang juga tinggi. Tanpa kreativitas murni, seseorang hanya akan berada pada tingkat popular tertentu yang masanya akan cepat habis.

Itulah sebabnya, dunia seni selalu menolak plagiasi, menciptakan inovasi, dan berdiri secara independen dalam menghasilkan karya yang berkualitas bagi pecinta seni. Salah satu seni kreativitas yang akan dibahas dalam artikel ini adalah seni musik.

Musik dan Kehidupan Sosial Masyarakat

Musik merupakan dunia seni yang sangat erat dengan kehidupan sosial masyarakat. Hampir semua kalangan masyarakat menjadikan musik sebagai bagian dari kehidupan mereka. Tidak heran jika musik menempati posisi pertama sebagai karya seni yang mampu memikat kehidupan berbagai kalangan masyarakat, baik tua maupun muda, baik kaya maupun miskin.

Oleh sebab itu pula, musik bisa mencerminkan kehidupan masyarakat yang tinggal pada suatu zaman. Misalnya saja, untuk mengetahui pemikiran pada zaman 70-an, maka kita bisa menelaah musik yang pada saat itu sangat digandrungi, terutama oleh remaja di zaman tersebut. Bukan hanya dari konsep musik dan performanya saja, tapi juga dari lirk lagu yang diungkapkan oleh musik yang beredar di zaman tersebut.

Hal tersebut disebabkan oleh musik sebagai representasi kehidupan sosial masyarakat akan sangat berpengaruh dan terpengaruh oleh kehidupan masyarakat yang tinggal di dalam budaya tersebut. Di satu pihak, musik merupakan hiburan yang menuntut kalangan sosial masyarakat tertentu untuk hidup sesuai dengan norma dan ketetapan tempat tinggal masyarakat. Akan tetapi, di sisi lain, musik juga muncul karena adanya pengaruh dari keinginan masyarakat mengenai sesuatu.

Misalnya saja, pada zaman Koes Ploes sedang menjadi band yang paling popular di Indonesia, lagu jatuh cinta dikemas dengan sangat sederhana dan penuh dengan ungkapan. Hal tersebut merupakan pengaruh dari kehidupan masyarakat yang pada saat itu masih sangat malu-malu untuk mengutarakan perasaan cinta pada lawan jenis.

Berbeda dengan musik zaman sekarang yang hampir semua liriknya bersifat terbuka seolah-olah tidak ada kata malu dan tabu untuk mengungkapkan berbagai emosi yang ada di dalam diri manusia. Hal itu secara tidak langsung tentu saja berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat zaman sekarang. Di pihak lain, konsep musik dengan lirik lagu yang terbuka seperti itu juga mendapatkan pengaruh dari modernisasi yang muncul dalam kehidupan dewasa ini.

Artinya, ada hubungan timbal balik antara musik dengan kondisi sosial masyarakat pada suatu zaman. Kedua hubungan tersebut bersifat saling terkait sehingga tidak bisa dilepaskan satu sama lainnya.

Lirik Lagu dan Penyakit Latah?

Kreativitas latah menjadi ciri negeri kita. Ini terbawa pada dunia musik, sinetron atau film, dan tayangan lain di televisi. Dari mulai lirik yang nyerempet, sampai musik yang benar-benar mengekor. Setelah penyebaran lipsync Keong Racun oleh dua gadis Bandung merebak, muncul jenis video klip yang sama. Secara kuantitas boleh saja, tetapi celakanya yang latah itu tidak diiringi kualitas yang baik. Terkesan asal-asalan.

Hans Miller Banureah dalam sebuah wawancara pernah menyayangkan sikap latah ini. Ngomongin soal kualitas mau tidak mau kita akan disodorkan “nilai” dari penggagas musik dan sikap produser sebagai pembuka corong menuju pasar. Sang pembuka corong (produser) sejauh ini lebih mengandalkan intuisi bisnis semata, bukan ikut serta menciptakan iklan kreativitas.

Sikap latah ini seperti menjadi penyakit menahun. Tak pernah bisa disembuhkan secara tuntas. Coba saja bayangkan. Ketika parodi Padhyangan Project sukses besar lewat Nasib Anak Kos disusul Kop dan Heden (produksi bulan Juli 1994) dua bulan kemudian lahir Ninahyangan, sama-sama memparodikan lagu asing. Atau, saat Maribeth sukses dengan lagu Denpasar Moon, muncul Mery Andani mengindonesiakan lagu tersebut. Bahkan, muncul pula Maribeth karbitan, satu di antaranya lahir lagu Kang Sarmun.

Kreativitas para penggagas, baik dari sisi syair atau lirik maupun musik, tidak semestinya terkungkung selera. Seorang pekerja kreatif sudah sepatutnya selalu mencipta sesuatu yang baru dan orsinil, bukan malah mengekor.

Sejauh ini, kita memang belum begitu bisa banyak berharap kalau perubahan harus datangnya dari konsumen. Kendati dalam keseharian masyarakat kita tak bisa dipisahkan dari musik. Namun, yang perlu dipahami, meminjam istilah Rima, secara praktis masyarakat masih cenderung action, masih sebatas bergaya dalam proses penikmatan musik.

Dengan kata lain, belum tergolong performing society, belum berani mempertontonkan sikap musikalitas dirinya di depan orang lain. Di samping tentunya belum banyak kupasan ikhwal musik Indonesia, baik lewat media baca maupun media dengar. Sehingga, bisa lambat laun memberi wawasan bagi konsumen.

Sampai saat ini, mayoritas kreativitas seni musik di Indonesia masih sebatas mengekor atau plagiasi terhadap karya seni orang lain. Padahal, seni musik tradisional di Indonesia sangat beragam dan jika kita mau dan mampu mengolahnya dengan baik, hal tersebut bisa menjadi daya tarik yang lebih besar daripada hanya sekadar membuat lagu yang mirip atau memang sama dengan lagu-lagu asing yang terkenal di kalangan masyarakat.

Kepribadian Musik di Indonesia

Menggugat keberadaan musik kita, tak lebih dari persidangan in absentia, di mana si tertuduh tak pernah hadir. Maka, pandangan kita pun lantas seperti menyaksikan sebuah fatamorgana, elok dari kejauhan tetapi tak berujud dari jarak dekat.

Sebenarnya, secara proporsional semestinya penggagas musik, penerbit musik, distributor, maupun penguasa TV sebagai media ajaib yang bisa mempengaruhi citarasa khalayak penonton, berada pada kelas yang sama, berdiri sejajar. Bukan lantas saling tuding.

Dengan berdiri sama dan sejejar, saharusnya tidak lantas saling menindih dengan alasan beda kepentingan. Sehingga, pada akhirnya, kita pun tidak akan pernah sangsi kalau kredibilitas para penggagas musik yang sebenarnya telah menunjukkan sikap profesional, dalam artian disiplin tinggi, percaya dan loyal pada profesi mendapat perlakuan profesional pula dari ukuran kesejahteraan. Tidak sebatas pengakuan semacam award yang sebenarnya lebih mengacu pada penghargaan kerja borongan, bukan penghargaan para profesional.

Dunia musik kita memang sedang berproses. Maka, tindakan selanjutnya memahami dulu dari apa yang kita sukai sekarang ini (self pleasure dan enjoyment semata) adalah lebih bijaksana. Baru, kemudian mencoba memberi penilaian dengan pendekatan kaidah-kaidah musik standar.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kepribadian musik di Indonesia masih sangat labil jika dibandingkan dengan musik di luar negeri. Hal tersebut sebetulnya dipengaruhi pula oleh pengetahuan dan wawasan masyarakat Indonesia mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan seni di Indonesia.

Kebanyakan masyarakat Indonesia hanya menganggap musik sebagai hiburan semata yang tidak bertendensi untuk memunculkan citraan tertentu mengenai pemikiran dan kepribadian suatu bangsa dan kehidupan sosial di dalamnya. Itulah sebabnya musik tidak dipandang sebagai karya seni yang bernilai adiluhung. Malah terkadang musik dijadikan sebagai lelucon semata yang mampu membuat masyarakat tertawa dan terhibur karena lelucon yang ditawarkan tersebut.

Kepribadian yang seperti ini seyogyanya menjadi spirit bagi para penggagas musik untuk lebih mengenalkan hakikat musik sebagai seni dan nilai hidup pada masyarakat sehingga kepekaan masyarakat akan seni musik pun lambat laun akan muncul dan bisa bersaing dengan musik internasional.

Karena musik bagian dari seni, dan seni merupakan bagian dari budaya, maka secara tidak langsung musik pun sangat berpengaruh terhadap perkembangan kebudayaan suatu negara. Karakter kepribadian yang muncul dari musik yang diusung di suatu negara akan sangat mencerminkan karakter kepribadian masyarakat yang tinggal di negara tersebut. Jika karakter musiknya bagus, maka masyarakat internasional pun bisa menilai kepribadian masyarakat Indonesia dengan takaran nilai yang serupa.

Speak Your Mind

*