Teladan Nabi Muhammad Saw. sebagai Contoh Wirausahawan Sukses

Ilustrasi contoh wirausahawan sukses 

Nabi Muhammad Saw. dikatakan dalam sejarah sebagai pribadi yang paling berpengaruh terhadap peradaban manusia. Ajaran Islam yang dibawanya merupakan rahmatan lil ‘alamiin (rahmat bagi seluruh alam) yang memberikan pengaruh luar biasa terhadap perkembangan budaya manusia di seluruh belahan dunia. Tak terkecuali pula teladannya sebagai contoh wirausahawan sukses.

Dalam berbagai aspek kehidupan, akhlak Nabi Muhammad Saw. dapat menjadi panutan sempurna bagi semua umat manusia akhir zaman. Keluhuran budi pekertinya yang agung dapat menjadi teladan bagi seluruh umat, baik sebagai pendakwah, pemimpin negara, panglima perang, ataupun sebagai seorang suami dan ayah.

Muhammad Saw. lahir pada 26 April 571 Masehi atau sekitar 1500 abad yang lalu dari ayah yang bernama Abdullah dan ibunya bernama Aminah. Sejak beliau dalam kandungan, sang ayah telah meninggal dunia. Kemudian, saat umur 6 tahun sang ibu pun meninggal.

Setelah itu, beliau dirawat oleh kakeknya Abdul Muthalib yang tak lama kemudian pun meninggal dan pengasuhannya diambil oleh pamannya yang bernama Abu Thalib. Dalam pengasuhan pamannya yang seorang pedagang ini, jiwa kewirausahaan Nabi Muhammad tumbuh berkembang.

Dalam kehidupannya yang bersahaja bersama pamannya, Muhammad kecil terbiasa dengan kerja keras. Dimulai dari menggembalakan kambing, menjual kayu bakar yang diambil dari hutan, ataupun ikut berdagang di pasar membantu pamannya.

Dari kehidupan masa kecil beliau sebagai penggembala kambing yang jumlahnya hingga puluhan ekor, kepribadian beliau terbentuk menjadi pemimpin yang ulet, bertanggung jawab dan melindungi. Dari pengalamannya ini pula, di kemudian hari beliau menjadi seorang pemimpin kafilah dagang yang cakap mengarahkan para pengikutnya.

Sedangkan dari kehidupan pasar, Muhammad belajar mengenai banyak hal terutama strategi berdagang dan bisnis. Di usia belasan tahun, Nabi Muhammad ikut serta dalam perjalanan dagang bersama pamannya Abu Thalib ke Syria. Dari keikutsertaannya ini, pengalaman dan pengetahuannya mengenai seluk-beluk tentang perniagaan kian mantap.

Selain perjalanannya dengan sang paman ke Syria ini, setelahnya, Nabi Muhammad banyak melakukan perjalanan-perjalanan niaga ke negara-negara lain di antaranya ke Yaman, Bahrain, dan Abessinia. Dari sana, Nabi Muhammad juga mempelajari jalur-jalur perdagangan yang dinilai memiliki prospek tinggi serta pengetahuan mengenai penduduk dan kondisi negara yang beliau kunjungi.

Hal itu kian memantapkannya sebagai wirausahawan muda yang unggul. Sebagai nabi dan rasul, beliau memang dianugerahi sifat-sifat kenabian, seperti selalu benar dalam perkataan dan perbuatan (Shiddiq), karena beliau adalah jiwa yang maksum yang selalu dibimbing dan diperingatkan dalam tindak tanduknya.

Namun, semenjak kecil sifat jujur yang dimilikinya telah terpancar dalam pergaulannya dengan siapapun. Sehingga, gelar Al-Amin atau yang dipercaya pun melekat padanya. Hal ini berpengaruh besar dalam karier perdagangannya.

Kesuksesan, kejujuran, serta pengalaman-pengalaman yang didapatnya bersama pamannya menumbuhkan jiwa entepreneur Muhammad semakin dalam sehingga menjadi buah bibir di kalangan para pemilik modal pada saat itu, untuk memberikan amanah padanya sebagai pengelola usaha perdagangan mereka.

Dengan sistem gaji ataupun musyarakah mudharabah atau sistem bagi hasil, Nabi menjalankan bisnis mereka dengan kredibilitas yang dapat diandalkan. Di usia yang sangat muda, Nabi telah menjadi contoh wirausahawan sukses yang berkelimpahan.

Pada usia 25 tahun, beliau menikah dan mampu memberikan mahar pada istrinya Khadijah dengan puluhan ekor unta yang apabila dirupiahkan pada saat ini jumlahnya akan mencapai miliaran. Khadijah adalah salah satu pemilik modal yang mempercayakan bisnisnya pada Muhammad, sehingga setelah menikah, dua kekuatan bisnis yang telah dibangun di antara mereka bersatu dan semakin kokoh.

Namun, terlepas dari kehidupan mereka sebagai pedagang sukses yang berkelimpahan, mereka tetap hidup bersahaja. Seluruh kekayaan mereka digunakan untuk kepentingan syiar Islam dan kemaslahatan umat saat itu.

Kesuksesan Nabi Muhammad Saw. sebagai contoh wirausahawan sukses dapat ditiru dimulai dari kepribadiannya. Dalam pergaulannya dengan sesama, beliau menunjukkan pribadi yang penuh kasih sayang terhadap siapapun. Dalam melayani pelanggannya, beliau selalu menunjukkan raut muka yang teduh penuh senyum.

Keramahannya mampu menawan hati siapapun. Saat orang lain sedang berbicara, beliau mendengarkan dengan saksama sebagai tanda perhatiannya. Beliau juga mudah mengingat nama seseorang walaupun sepintas lalu beliau pernah berjumpa atau menjadi mitranya.

Dengan sahabat-sahabat ataupun para pegawai yang bekerja padanya, beliau selalu menumbuhkan sikap optimis dan saling menghibur dan mendukung meskipun sedang berada dalam keadaan sulit sekalipun. Sikap toleransi beliau yang tinggi untuk memahami bermacam-macam perbedaan mulai dari perbedaan kebiasaan dan budaya dari orang-orang yang ditemuinya.

Hingga, cara pandang mereka mengenai sesuatu hal membuat Nabi Muhammad menjadi sosok yang mudah mempengaruhi orang-orang di sekitarnya, termasuk para pelanggannya. Beliau selalu menempatkan diri untuk melihat permasalahan dari sudut pandang lawan bicaranya sehingga terjalin rasa saling memahami.

Hal ini kemungkinan besar didapat beliau dari pengalamannya berkunjung ke berbagai daerah dan bertemu dengan penduduk yang memilki budaya serta karakter yang berbeda. Etos kerja Nabi Muhammad yang mengagumkan, patut diteladani tidak hanya bagi umat Islam sendiri tetapi bagi seluruh manusia sepanjang masa.

Penghargaan beliau terhadap pentingnya waktu menjadikannya pribadi yang berdisiplin tinggi. Nabi mengajarkan dalam hadistnya: “Di antara baiknya ke-Islaman seseorang adalah ketika ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Ahmad, Turmidzi, dan Ibnu Majah).

Selain itu, Nabi pun tak pernah memberi janji palsu atau advertensi berlebihan mengenai perniagaannya. Dalam hal ini, lagi-lagi kejujuran dan transparansi menjadi hal yang selalu beliau kedepankan sehingga terbentuklah kepercayaan masyarakat yang pada saat itu sangat memerlukan jaminan kepastian dari kondisi yang tidak tentu dan penuh kecurangan.

Hadis Nabi mengatakan “Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai para penjahat kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur.” (HR. Tirmidzi)

Beliau melarang umatnya untuk melakukan riba, mengambil laba yang berlebihan, mengurangi timbangan, ataupun melakukan penipuan. Keberhasilan Nabi Muhammad dalam wirausaha juga karena kobaran api semangat beliau untuk berkorban dan memberikan kemanfaatan bagi sesama.

Dalam sebuah hadis beliau mengatakan “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Thabrani dan Daruqutni). Segala perjuangan beliau dalam kehidupannya adalah tak lain dan tak bukan untuk kemaslahatan dan keselamatan umatnya. Segala kekayaan yang dimiliki atas hasil kerja keras beliau dan juga istrinya Khadijah pada akhirnya beliau wakafkan untuk perkembangan Islam dan kesejahteraan umat.

Dengan semangat kebermanfaatan, seseorang akan memiliki harga diri yang tinggi dan kebahagiaan yang tidak dapat dinilai dengan materi. Memberi dan menjadi bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang lain dapat menjadi motivasi diri untuk selalu bekerja keras dalam upaya meraih inti kebahagiaan hidup sejati.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 274 diterangkan: “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Dengan nilai-nilai ketauhidan yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. melalui risalah Islam, beliau menekankan umatnya untuk selalu menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Karena jalan tercapainya kebahagiaan akhirat adalah kehidupan dunia dan tujuan akhir dari segala perjuangan kehidupan dunia adalah akhirat.

Speak Your Mind

*