Tempat-Tempat Ihram

Ilustrasi Tempat IhramIhram merupakan salah satu rukun yang wajib dilakukan ketika menunaikan haji atau umrah. Ihram juga bisa diartikan sebagai pakaian yang dikenakan oleh setiap Muslim ketika dirinya melaksanakan haji atau umrah.

Seseorang yang hendak melaksanakan haji atau umrah diwajibkan atas dirinya untuk melakukan ihram dari miqat yang telah ditentukan. Pengertian dari miqat itu sendiri adalah batas tempat dan waktu yang ditentukan bagi seorang Muslim yang akan menunaikan ibadah haji atau umrah ketika hendak memulai ihramnya.

Miqat yang didasarkan atas tempat disebut Miqat Makani. Sementara miqat yang didasarkan pada waktu dinamakan Miqat Zamani. Ada perbedaan antara kedua mikat tersebut. Apa sajakah perbedaan itu? Dan mana sajakah tempat ihram yang dianjurkan?

Miqat Makani

Pertama yang akan kita bahas adalah miqat makani. Apakah ada di antara Anda yang belum tahu apa itu miqat makani? Bagi orang-orang Muslim yang tinggal di Makah, rumah mereka menjadi tempat untuk melaksanakan ihram haji. Sementara untuk umrah, ihramnya harus keluar dari tanah haram Makah, dan sebaik-baiknya tepat ialah di daerah Ji’ranah, Tan’eim, atau Hudaibiyah. Namun, bagi mereka yang tinggal diluar Makah, ada 5 tempat untuk memulai ihram, di antaranya sebagai berikut :

Juhfah

Pertama adalah Juhfah yang merupakan desa tua yang sering dilewati oleh para pendatang dari Syam menuju Makah. Juhfah inilah yang menjadi miqat bagi penduduk Mesir, Syam, dan siapa saja yang melewatinya.

Qarnulmanazil

Kedua adalah Qarnulmanazil yang merupakan miqat bagi penduduk Taif dan orang-orang yang melewatinya. Tempat ihramnya di gunung Musyrif di Arafah.

Yalamlam

Ketiga adalah Yalamlam yang merupakan mikat bagi penduduk Yaman. Yalamlam ini merupakan tenpat ihram yang diambil dari nama sebuah bukit di Pegunungan Tihamah.

Zul Hulaifah

Keempat adalah Zul Hulaifah yang merupakan miqat bagi penduduk Madinah. Tempat air minum Bani Jasyum yang sekarang dikenal dengan nama nama Bir Ali. Miqat ini merupakan tempat ihramyang paling jauh jaraknya dari Kota Mekah.

 Zatu Irqin

Kelima atau yang terakhir adalah Zatu Irqin, merupakan miqat yang ditentukan berdasarkan kesepakatan para ulama. Oleh karena disepakati oleh para ulama saja, Miqat ini tidak disebut dalam hadis Rasulullah saw. Miqat ini merupakan tempat yang dilewati oleh orang-orang di bagian Negeri Irak.

Miqat Zamani

Setelah ada Miqat Makani, ada juga Miqat Zamani. Pada saat terjadinya pelaksanaan haji, para ulama sepakat bahwa miqat diawali pada bulan Syawal sampai terbit fajar tanggal 10 Zulhijah, yaitu ketika ibadah haji dilaksanakan.

Sedangkan untuk waktu pelaksanaan umrah, miqat zamani dapat diawali pada sepanjang tahun.

Berbeda dengan Miqat Makani yang ditetapkan hanya oleh ulama, semua miqat makani ini ditetapkan langsung oleh Rasulullah, kecuali miqat Zatu Irqin. Sementara miqat zamani tercantum dalam kitab suci Alquran surat Al-Baqarah, ayat 189.

Isi dari surat tersebut adalah “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Itu adalah (petunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji’ Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari atasnya, tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang bertakwa. Masukilah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

Di tempat ihram kita diwajibkan untuk melakukan segala perbuatan yang telah diatur dalam hadis atau Al-Quran yang disebut dengan tata cara ihram. Bagaimanakah tata cara yang benar saat berikhram di tempatnya?

Aturan Ihram di Tempat Ibadah

Jika Anda sedang melakukan ibadah di suatu tempat ada beberapa tata cara yang dilakukan saat ada di sana. Contoh sederhananya adalah melepas sandal sebelum masuk ke dalam masjid, lalu berwudhu kemudian solat. Begitu juga dengan di tempat ihram, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Tentu Anda sudah tahu bahwa siapapun yang akan melakukan haji atau umrah harus mencontoh segala tindakan dari Rasulullah. Inilah beberapa sunah dari Rasul yang harus kita ikuti agar mendapatkan kemuliaan yang lebih dari ibadah kita. Hal pertama yang harus atau sunah Anda lakukan sebelum berihram di tempat ibadah adalah mandi, baik untuk wanita atau laki-laki agar berada dalam keadaan suci.

Adapun hadist yang membahas mengenai kegiatan mandi tersebut, diriwayatkan oleh Jabir Radhiyallahu ‘anhu.

Lalu kami keluar bersama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tatkala sampai di Dzul Hulaifah Asma binti Umais melahirkan Muhammad bin Abi Bakr lalu ia (Asma) mengutus (seseorang utk bertemu) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dan berkata): Apa yg aku kerjakan? Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Mandilah & beristitsfarlah kemudian ihram.” (Riwayat Muslim (2941) 8/404 Abu Daud no.1905 1909 & Ibnu Majah no.3074)

Bersihkan hampir semua bagian tubuh Anda ketika berwudhu agar kotoran yang ada pada diri Anda hilang sehingga Anda menjadi bersih/suci. Jika tidak ada air untuk membasuh badan Anda, tayamum saja. Ketika Anda akan beribadah ihram, disunahkan untuk memakai minyak wangi. Memakai wangi-wangian juga kegiatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad sebelum dia berihram.

Walaupun dianjurkan untuk memakai wewangian, hanya diperbolehkan untuk mengenakannya ke kulit bukan ke baju ihram. Walaupun menggunakan minyak wangi diperbolehkan, tetap saja ada beberapa pendapat berbeda yang menyertainya. Pendapat atau permasalahannya terdiri atas dua keadaan, seperti memakai sabun sebelum mandi atau berihram itu diperbolehkan, serta memakai wewangian setelah mandi dan sebelum ihram serta minyak wangi tidak hilang sampai ihram selesai, itu diperbolehkan oleh hampir semua ulama terkecuali Imam Malik.

Salah satu dalil yang membolehkannya adalah menurut Aisyah Radhiyallahu ‘anha, yang berbunyi “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kalau ingin berihram memakai wangi- wangian yg paling wangi yg beliau dapatkan kemudian aku melihat kilatan minyak di kepalanya & jenggotnya setelah itu“.(HR.Muslim no.2830 ).

Ada dua pertanyaan yang pernah diterima oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin tentang menggunakan minyak wangi. Pertanyaan pertama adalah apakah jika seseorang mengenakan wewangian pada kepala atau jenggot dan minyak wangi menetas sehingga mengenai tempat ibadah apakah itu akan berpengaruh?

Dari pertanyaan tersebut muncullah jawaban bahwa adanya perpindahan minyak wangi yang tidak disengaja maka tidak akan berpengaruh terhadap ibadah mereka. Walau mereka ada di tempat ibadah namun menggenakan minyak wangi pada keadaan yang diperbolehkan maka tidak apa-apa.

Pertanyaan keduanya adalah apabila seseorang telah menggunakan  minyak rambut kemudian dia pergi berwudhu, apakah tidak apa-apa jika minyak rambut menempel pada tangan yang membasuh kepalanya? Atau harus mengenakan sarung tangan dahulu sebelum mengusap kepala?

Jawaban dari pertanyaan itu adalah tidak perlu menggunakan sarung tangan. Jika Anda melakukan hal tersebut berarti sudah melebih-lebihkan sesuatu, yang tentunya dilarang dalam agama, berwudhulah sewajarnya karena mengusap dengan telapak tangan itu dimaafkan.

Ketika ada di tempat ibadah ihram, Anda juga harus mengenakan dua helai kain putih sebagai selendang atau sarung. Ada hadistnya juga loh yang menjelaskan hal tersebut. Bunyinya adalah “Hendaklah salah seorang dari kalian berihram dg menggunakan sarung & selendang serta sepasang sandal.” (HR. Ahmad 2/34 & dishahihkan sanadnya oleh Ahmad Syakir).

Kain ihram lebih baik yang berwarna putih yang juga disunahkan oleh Rasulullah. Mungkin karena warna putih melambangkan kesucian dan kebersihan, jadilah kain berwarna putih yang lebih diutamakan. Kain bisa yang terbuat dari katun, bulu domba atau yang lainnya.

Itulah sedikit penjelasan mengenai tempat ihram beserta dengan tata cara saat kita ada di tempat ibadah untuk melakukan ihram. Sudah selayaknya muslim untuk menjalankan apa yang telah dititahkan oleh Allah dan Rasulullah.

Apakah sudah menambah wawasan Anda? Selamat membaca dan berihram di tanah suci bagi yang akan melaksanakannya.

Speak Your Mind

*