Teori Perbankan

Tahukah Anda seperti apa teori perbankan Islam? Tiga dekade telah berlangsung sejak teori perbankan Islam diperkenalkan oleh ahli ekonomi dan praktisi Islam di seluruh dunia. Skema dari bagi hasil keuntungan ataupun kerugian yang menjadi pilihan alternatif atas praktik bunga pada bank konvensional rupanya tidak mendapatkan feedback yang baik dari industri perbankan Islam dalam pembiayaan jangka pendek.

Teori perbankan Islam ini muncul pertama kali pada sebuah desa kecil di Mesir pada 1960-an. Setelah itu, diikuti dengan pendirian Bank Islam di Pakistan, Iran, dan seluruh dunia sejak 1970-an. Tujuan dari para ekonomi Islam ini adalah kepatuhan pada prinsip bagi hasil dibandingkan dengan praktik bunga pada perbankan konvensional.

Namun, selama lebih dari tiga dekade, ternyata perbankan Islam masih tidak dapan memberikan solusi alternatif bagi adanya praktik bunga tersebut. Kebanyakan ekonomi Islam menganggap bahwa perbankan Islam telah sukses dalam mengatasi fase mark up. Dari perbankan Islam ini yang menjadi permasalahan adalah bagaimana meningkatkan menjadi fase bagi hasil.

Dalam hal ini, mudarabah dan musharakah menjadi model keuangan yang dapat menggunakan skema bagi hasil dari perbankan syariah. Pada kenyataannya, skema mudhrabah dan musyarakah hanya memakan porsi sekitar 20% dari portofolio perbankan syariah.

Pendekatan pada bank syariah pun harus membedakan antara perbankan retail dan perbankan besar. Islamic deposit banks adalah keuangan moneter yang memobilisasi dana bank dari yang memperoleh surplus dan disalurkan kepada bank karena sedang deficit. Sementara itu, pada perbankan besar, model bagi hasil seperti musharakah dapat dilakukan seperti juga institusi keuangan non moneter lainnya yang sejenis.

Penggunaan dana jangka panjang ini dapat sesuai dengan prinsip bagi hasil yang diusung oleh perbankan syariah. Namun, perlu dibedakan antara pembiayaan jangka panjang untuk investasi dan pembiayaan jangka pendek. Untuk aset-aset lancar, perbankan syariah pun tetap menggunakan model mark-up yang diaplikasikan ke dalam murabahahsalam, istishnah, ijarah, ju’alah, dan lainnya.

Mereka menggunakan hal yang serupa seperti yang dilakukan perbankan konvensional karena kemudahan pelaksanaannya dalam pembiayaan jangka pendek. Dalam model pembiayaan mark-up, kita tidak harus menunggu hasil publikasi perusahaan tentang kalkulasi perhitungan dari realisasi untung rugi yang akan menjadi dasar bagi metode bagi hasil.

Teori Perbankan – Konsep Perbankan Syariah

Mayoritas fuqaha dan ekonom muslim menyatakan dengan jelas bahwa praktik bunga adalah dilarang. Tidak dipungkiri, perbankan konvensional lebih dahulu berkembang di tengah masyarakat sekarang dan bank dianggap sebagai intermediasi dari sektor keuangan.

Keuntungan bank konvensional terletak dari margin bunga dari imbalan yang dibayarkan kepada investor bunga yang didapat dari pinjaman debitor. Aktivitas ini dilarang oleh kaum fuqaha, baik praktik dalam tujuan jangka pendek maupun jangka panjang, dan dalam bentuk pembiayaan konsumsi maupun produksi.

Dalam banyak institusi keuangan Islam yang menganut sistem ganda, yaitu profit-loss sharing dan interest, sangat nyata bahwa perbankan syariah tidak bebas dalam menentukan margin keuntungan yang mereka kehendaki. Dibutuhkan suatu model matematis yang rumit dalam menganalisa limit dari perbankan syariah untuk menentukan keuntungan mereka.

Hal ini masih menjadi pekerjaan berat bagi perbankan syariah yang telah menjalani tiga dekade kelahirannya untuk tetap dalam eksistensinya, yaitu solusi dari praktik bunga yang dilarang. Para ekonom muslim mendefinisikan perbankan Islam sebagai partner dari pembisnis untuk bersama membagi risiko dari bisnis yang dijalankan.

Pembagian keuntungan maupun kerugian menjadi trademark dari teori perbankan Islam. Untuk memformulisasikan prinsip ini ke dalam praktik di lapangan, ekonom muslim menganjurkan untuk menggunakan metode musyarakah dan mudarabah. Keduanya ini membentuk kerja sama pemodal dan menjalankan usaha untuk membagi keuntungan maupun kerugian bersama. Di dalam mudharabah, pemilik modal dan yang berusaha adalah orang yang berbeda.

Orang yang berusaha hanya dibebankan pada tenaganya, kerugian yang ditanggung adalah usaha yang telah dijalankannya. Depisitor dalam musyarakah dan mudharabah akan mendapatkan keuntungan setelah direalisasikan oleh bank. Para investor yang telah menanamkan modalnya di perbankan syariah akan mendapat keuntungan di akhir jangka waktu usaha. Inilah yang membedakan perbankan syariah dengan perbankan konvensional.

Teori Perbankan – Praktik Perbankan Syariah

Setelah tiga dekade berjalan, keuangan Islam telah menyebar luas ke seluruh dunia dan mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Pada 2007, sudah terdapat 82 unit institusi keuangan Islam di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Disusul oleh tetangga-tetangga Timur Tengah sebanyak 47 unit, Afrika 35 unit, serta 12 unit yang terbesar di Eropa, Amerika, dan Australia.

Mayoritas institusi keuangan Islam terdapat di Asia Tenggara karena kawasan tersebut adalah kawasan regional yang sedang berkembang menjadi perekonomian yang booming dan dihuni oleh negara pemeluk agama Islam terbesar, yaitu Indonesia dan Malaysia.

Belakangan ini, hampir semua perbankan konvensional besar yang terdapat di Indonesia telah membuka Unit Usaha Syariah. Hal ini menunjuklan animo yang besar akan potensi perbankan syariah. Dunia pun seakan tidak mau ketinggalan. Beberapa bank di dunia barat pun sudah membentuk struktur organisasi yang membawahi jasa keuangan dengan menggunakan metode keuangan syariah.

Kejadian ini menunjukkan bukti bahwa institusi keuangan syariah dengan perbankan telah menjadi jalan alternatif dari perbankan konvensional yang berbasis bunga. Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan menjadi solusi bagi krisis global yang saat ini terjadi di Uni Eropa akibat gagalnya praktik sistem keuangan konvensional di sana.

Teori Perbankan – Islamic Banking System

Tidak seperti sistem perekonomian yang saat ini terjadi di dunia, termasuk Indonesia, dana-dana yang masuk ke dalam pasar modal dan pasar uang terkumpul di situ saja tanpa bisa menggerakan sektor riil. Hal ini dapat ditebak mengapa orang lebih suka memarkir uangnya di pasar modal atau pasar uang. Ya, karena adanya kepastian imbalan hasil berupa bunga.

Besarnya bunga deposito yang tanpa harus bekerja keras membangun usaha juga telah memanjakan para pemilik modal. Apabila hal ini berlangsung secara terus menerus, sektor riil tidak akan bergerak. Sistem perbankan Islam juga mengenal zakat terhadap sumber daya finansial yang menganggur.

Secara efektif, hal ini akan memaksa pemilik sumber daya finansial untuk mencari peluang-peluang investasi yang prospektif di sektor riil agar terhindar dari penurunan kesejahteraan. Dalam sistem perbankan Islam, bunga dilarang dan zakat diterapkan sehingga semangat dalam mengembangkan bisnis menjadi besar dan akan mendorong terjadinya dinamika perekonomian di sektor riil.

Teori Perbankan – Kesenjangan Teori dan Praktik Perbankan Syariah

Praktik di berbagai negara, termasuk di Indonesia, terhadap perbankan syariah, menunjuklan adanya kesenjangan yang lebar antara teori perbankan dan prinsip dasar yang dikembangkan para ekonom muslim dengan realisasi di lapangan. Salah satu contoh paling nyata adalah dana nasabah yang terdapat di perbankan syariah seluruhnya, secara implisit maupun ekspelisit, dijamin, termasuk dana di rekening investasi.

Semua bank syariah yang ada di Indonesia rupanya masih memproteksi dana nasabah. Bila terjadi kerugian, dijamin tidak akan mengurangi uang nasabah yang ada di bank. Hal ini bertujuan menjaga agar bank syariah tetap kompetitif dibanding bank konvensional.  Pada prinsipnya, tidak ada nasabah yang mau jika uangnya berkurang ketika sudah mempercayakan kepada bank untuk tabungannya.

Semoga artikel tentang teori perbankan ini dapat bermanfaat bagi pembacanya dan menjadikan sebuah ilmu pengetahuan tentang perbankan.

Speak Your Mind

*