Tokoh Pahlawan Kemerdekaan: Bung Hatta

Muhammad Hatta atau yang lebih dikenal dengan nama Bung Hatta merupakan salah satu tokoh proklamator bangsa. Beliau juga tokoh pahlawan kemerdekaan Indonesia. Dilahirkan pada 12 Agustus 1902 dengan nama pemberian orang tuanya, Muhammad Athar. Beliau dikenal sebagai pejuang, negarawan, Bapak Koperasi Indonesia, dan wakil presiden Indonesia yang pertama mendampingi Soekarno.

Gelar Pahlawan Nasional Yang Telat

Muhammad Hatta memang telah dinyatakan sebagai bapak Proklamator Indonesia dan bapak Koperasi Indonesia. Beliau juga adalah salah satu tokoh pahlawan kemerdekaan. Tetapi ternyata gelar sebagai pahlawan nasional itu baru saja didapatkan oleh Muhammad Hatta pada tanggal 10 November 2012. Apa gerangan yang membuat bangsa ini begitu sulit melimpahkan gelar ‘pahlawan’ kepada seorang hebat dan sangat berjasa seperti Muhammad Hatta? Bangsa ini seperti melihat satu titik kesalahan sebagai sebuah selimut yang menyelimuti semua permukaan kebaikan.

Padahal kesalahan yang dibuat Muhammad Hatta juga tidak jelas. Ia hanya dikatakan hendak menggulingkan Soekarno. Suatu alasan yang terlalu dibuat-buat. Muhammad Hatta yang begitu sederhana, tidak mempunyai ambisi memegang tampuk kekuasaan. Ia yang sangat tahu hukum agama, lebih memilih tidak berada di garis depan lagi ketika ia tahu bahwa generasi muda telah lebih mampu dibandingkan dengan dirinya. Ia bahkan tidak berambisi menjadi orang kaya.

Padahal relasi dan temannya banyak. Kalau ia mau, ia bisa mendapatkan harta yang berlimpah. Otaknya cemerlang dan ia bukan orang sembarangan yang tidak berilmu. Kekuatan analisis dan metode pengambilan keputusannya cukup disegani. Ia adalah tokoh pergerakan kemerdekaan yang memperjuangkan tanah airnya di negeri Belanda ketika ia masih menjadi mahasiswa di sana. Dari penelusuran sejarah saja sudah dapat diketahui seperti apa kualitas intelektual Bung Hatta.

Ia yang meletakkan tongkak perkoperasian di Indonesia. Ia yang memberikan bimbingan bagaimana ekonomi kerakyatan seharusnya dilakukan. Kalau ia mau, ia bisa saja tidak lagi mendampingi Soekarno yang dianggapnya sudah banyak menyimpang, sejak lama. Namun, kepentingan bangsa lebih diutamakan. Bahkan dirinya sendiri saja tidak terlalu diperhatikannya. Begitu lama ia ingin memiliki sebuah sepatu dari luar negeri yang berharga mahal. Hingga akhir hayatnya, sepatu itu tak mampu ia beli.

Anak-anaknya pun ia didik dengan penuh kesederhanaan. Ia tidak ingin anak-anaknya merasa sebagai anak pejabat. Anak-anak dan istrinya pun menjadi orang-orang pejuang yang membela kepentingan banyak orang. Ia yang rajin membaca ini memang memanfaatkan ilmunya untuk kepentingan banyak orang dan tidak memakan ilmu itu seorang diri. Sebagai seseorang yang berasal dari Sumatera Barat yang kental dengan didikan agama, Bung Hatta sangat tahu ke mana akhir hayatnya hendak dilabuhkan.

Kini Bung Hatta bersama dengan Bung Karno telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Bagi orang seperti mereka, predikat tersebut bukanlah sesuatu yang penting. Mereka tidak membutuhkan hal yang seperti itu. Mereka hanya ingin melihat bangsa ini hebat dan kehidupan sosial merata dan adil. Bung Karno, misalnya, tidak mendapatkan predikat pahlawan nasional karena sejarah hidupnya yang sempat dekat dengan gerakan PKI. Mungkin bisa dipahami bahwa kejatuhan Bung Karno cukup miris untuk dikenang.

Keluarga Bung Hatta sendiri berharap bahwa ada nama jalan yang memakai nama ayah mereka. Nama jalan yang terpisah dari nama ‘Soekarno’. Hal ini sebagai suatu permintaan yang normal dan wajar saja. Bagaimanapun Bung Hatta memang telah memberikan separuh hidupnya kepada bangsa ini. Walaupun sebenarnya, pemberian nama itu mungkin tidak mengubah apa-apa. Namun, sebagai bagian dari satu peradaban sebuah negara, pemerintah seharusnya meluluskan permintaan yang tidak sulit ini.

Mungkin nanti, stasiun MRT yang akan dibangun itu diberi nama, MRT Bung Hatta sebagai suatu penghormatan kepada wakil Presiden pertama itu. Masyarakat mungkin tidak akan keberatan menerimanya dan mungkin juga tidak akan ada demo berkaitan dengan pemberian nama tersebut. Joko Widodo sebagai gubernur DKI Jakarta perlu diajak berkompromi bagaimana dengan usulan tersebut. Paling tidak, setitik penghargaan ini akan membawa kesenangan dan kebanggaan tersendiri bagi keluarga yang masih ada.

Masa Kecil Bung Hatta

Lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, beliau menempuh pendidikan dasarnya di Sekolah Melayu, Bukittinggi. Selain memperoleh pendidikan formal, beliau juga mendapat pendidikan agama dari ayahnya yang merupakan seorang ulama terkemuka di Bukittinggi. Kehidupan yang begitu kental dengan pelajaran dan pengetahuan agama itulah yang membuat karakter Hatta muda begitu kuat. Komitmennya tentang kebangsaan dan keyakinannya bahwa bangsa ini harus merdeka telah membuat perjuangannya tiada mengenal lelah.

Bila saja semangat berjuangnya kendur, maka belum tentu akan ada negara dengan nama ‘Indonesia’. Ia yang dengan hati dan tangan terbuka menyambut kehadiran teman-teman seperjuangan yang berasal dari daerah lain di Indonesia, dianggap sebagai pemimpin yang mampu merangkul banyak pihak yang berlainan budaya, bahasa, dan agama. Bung Hatta yang sederhana ini dianggap cukup tegas dalam kepimpinannya.

Beliau juga dikenal sebagi pribadi yang disiplin dan tepat waktu, sehingga ada pameo di Bukittinggi pada masa itu, “Orang Bukittingi tidak membutuhkan arloji, cukup melihat kapan Hatta kecil pergi sekolah, pulang sekolah, dan pergi mengaji”. Atribut ini bukan main-main. Tidak mudah menemukan anak muda yang begitu berkarakter seperti Hatta kecil. Sifat kepemimpinan yang luar biasa itu adalah hasil dari didikan rumah dengan ayah dan ibu yang juga sangat disiplin.

Anak belajar dari lingkungannya. Lingkungan yang sangat menjunjung tinggi keberadaan waktu itu telah membuat Hatta begitu menghargai waktu. Ia tahu dan sangat paham apa yang harus diperbuatnya dalam kehidupan yang tidak lama ini. Seakan tidak ada waktu untuk mempermainkan waktu yang begitu sempit. Ia mempunyai setumpuk kegiatan yang harus dilakukannya demi menuju masa depan yang gemilang.

Tanpa tahu harus berbuat apa, orang tidak akan memanfaatkan waktu dengan baik. Berleha-leha dengan waktu dan membuangnya dengan melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat mungkin akan dialami oleh Hatta kecil seandainya ia tidak mempunyai agenda kerja yang tepat dan banyak. Orangtua yang baik adalah orangtua yang mampu mendidik anaknya menjadi anak yang sangat paham dengan waktu dan tahu fungsi waktu yang sesungguhnya.

Masa Muda

Lulus dari sekolah melayu kemudian beliau melanjutkan pendidikannya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang. Setelah lulus beliau melanjutkan pendidikan ke Batavia (sekarang Jakarta) di Sekolah Tinggi Dagang. Lulus dengan prestasi yang sangat baik, Bung Hatta pun melanjutkan studinya ke negeri Belanda dan hidup di sana selama 11 tahun. Selain melanjutkan pendidikan, beliau juga aktif dalam beberapa organisasi di Belanda.

Semua hal yang ada di Belanda, dimanfaatkan oleh Hatta untuk menimbah ilmu sebanyak-banyaknya. Ia tak mau membuang waktunya begitu saja tanpa melakukan hal yang bermanfaat. Pada 1932, Bung Hatta kembali ke Indonesia, sesampainya di Indonesia Bung Hatta tetap aktif berorganisasi, saat itu beliau berbagung bergabung dengan organisasi yang diketuai Soetan Sjahrir, Club Pendidikan Nasional. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan ilmu pengetahuan politik rakyat Indonesia melalui pengetahuan dasar.

Karena menurut Belanda organisasi ini dapat mengganggu pemerintahan Belanda, maka pada 1934, Bung Hatta dan Soetan Sjahrir ditangkap. Beliau kemudian diasingkan selama 6 tahun ke Digul, kemudian ke Banda. Pada Agustus 1945, dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang diketuai oleh Soekarno dengan wakil Muhammad Hatta. Pada 16 Agustus malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan melakukan rapat di rumah Laksamana Maeda, dengan tujuan untuk menyusun teks proklamasi yang akhirnya disetujui semua pihak untuk ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama Indonesia.

Keesokan paginya, 17 Agustus 1945, naskah teks proklamasi yang telah dikerjakan tersebut dibacakan tepat pukul 10.00 pagi, di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta. Satu hari kemudian Soekarno ditetapkan sebagai Presiden pertama Republik Indonesia dan Hatta ditetapkan sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.

Kehidupan pribadi Bung Hatt, salah satu  tokoh pahlawan kemerdekaan ini, cukup harmonis dan penuh cinta. Menikah dengan Rahmi Rachim pada 18 November 1945 di Bogor dan dari hasil pernikahan tersebut beliau dikaruniai tiga orang putri. Pada 1972, Bung Hatta menerima penganugrahan negara berupa tanda kehormatan tertinggi berupa “Bintang Republik Indonesia Kelas I” yang diserahkan oleh Presiden Soeharto. Hatta wafat 14 Maret 1980 pada usia 77 tahun dan dimakamkan di di TPU Tanah Kusir keesokan harinya.

Speak Your Mind

*