Tokoh-Tokoh Sejarah Sepak Bola Indonesia: Ronny Pattinasarani

Tokoh-tokoh sejarah di dunia tentunya sudah banyak dikenal dari berbagai literatur sejarah di bangku sekolah. Tapi beda halnya dengan tokoh sepak bola. Walaupun mereka hanya pejuang lapangan, sama seperti halnya pejuang kemerdekaan. Semangat nasionalisme secara otomatis telah mereka tumbuhkan dalam olahraga yang paling digemari di dunia ini. Maka lihat saja euforia piala Asia di Indonesia Desember ini. Benar-benar membakar semangat nasionalisme masyarakat dari berbagai golongan.

Tumbuh Dalam Kesulitan

Tokoh-tokoh sejarah itu biasanya tumbuh dalam kesulitan dan himpitan. Mereka mempunyai karakter yang sangat kuat untuk melakukan sesuatu bagi orang lain dan tanah airnya. Mereka rela mengesampingkan kepentingan pribadinya semi cita-cita yang akan diraihnya. Misalnya, Nelson Mandela. Pria yang sudah beranjak ke usia senja ini harus mendekam di penjara selama puluhan tahun. Dalam pengasingan itu ia berusaha tetap memberikan inspirasi kepada semua pengikutnya yang setia.

Ia berusaha untuk tidak stres dan gila berada dalam penjara yang kecil dan terisolasi itu. Keteguhan hati dan keyakinannya bahwa perjuangannya akan berhasil, telah membuatnya menjadi sosok yang sangat disegani. Ketika ia diangkat menjadi seorang presiden, ia tidak mabuk kekuasaan dan ingin balas dendam. Ia tetap elegan dalam berpikir sehingga pada saat ia turun dari jabatannya, rakyatnya masih mencintainya. Kini pun ia menjadi bapak bangsa Afrika Selatan sekaligus menjadi salah satu figur yang sangat dihormati oleh orang-orang dari negara lain.

Selain Nelson Mandela, lihatlah apa yang telah dilakukan oleh tokoh dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Muhammad Hatta, Haji Agus Salim, Sukarno, dan lain-lain. Mereka berjuang demi tegaknya kemerdekaan Indoenesia. Dalam jabatannya yang tinggi, seorang Agus Salim, misalnya, ia ternyata tetap tidak mempunyai harta. Ia tetap hidup melarat. Kecerdasannya dan kepiawaiannya dalam banyak hal, tidak membuatnya serakah dan berusaha mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.

Bila kini para pahlawan yang berjuang dengan hati dan sangat bersungguh-sungguh itu tetap dikenang, itu adalah buah dari keikhlasannya. Sangat berbeda ketika seseorang berjuang demi mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Perjuangannya mungkin tidak akan dilihat dan dikenang sebagai satu bentuk perjuangan. Tuhan tidak pernah tidur. Suatu ketika apa yang tersembunyi itu akan terkuak. Ketika rahasia itu terkuak yang bisa dilakukan adalah mengambil hikmah dari semua itu.

Tokoh sejarah Islam pun banyak memberikan pelajaran bagaimana sulit dan sengsaranya menyebarkan ajaran yang benar ini. Berabgai cobaan dan halangan harus dilalui. Mereka berhijrah dan berperang demi satu kebenaran yang diyakini. Setiap perjuangan itu tidak akan sia-sia ketika dilandasi dengan keyakinan. Para tokoh itu tetap tabah. Dari semua keterbatasan dan himpitan hidup itulah mereka lahir dan memberikan sinar cahaya inspirasi bagi yang amsih hidup kini.

Cahaya inspirasi itu tidak akan bisa terlihat bila tidak ada pengungkapan yang benar tentang ketokohan dan perjuangan mereka. Oleh karena itulah, merupakan sesuatu yang sangat baik bila mempelajari sejarah dengan hati. Sejarah yang sesungguhnya adalah sejarah yang tidak direkayasa. Al-Quran dan hadist adalah sumber kisah sejarah yang hakiki. Sedangkan kisah sejarah yang lain masih ada kemungkinan didistorsi. Walau begitu, semua bentuk yang digambarkan dalam ketokohan seseoarng, masih bisa dipelajari.

Tokoh Sepakbola

Dunia atlit juga mneyumbangkan banyak tokoh. Perjuangan mereka mengharumkan nama bangsa patut diacungi jempol. Walaupun banyak berita yang menyangkut nasib atlit yang terlunta-lunta hingga meninggal dunia, apa yang telah dilakukan atlit tersebut tetap harus dihargai. Paling tidak mereka pernah menghibur dan memberikan kebahagiaan kepada penonton yang menikmati permainan mereka. Pemerintah telah berusaha untuk membantu para atlit yang tidak berdaya ini. Namun, memang keadaan yang serab sulit dan anggaran yang terbatas.

Hidup memang sulit dan tidak pernah membiarkan manusia tidak berjuang meraih kehidupan yang baik. Dibalik kesulitan dan perjuangan itulah akan terlihat apakah seseoarng itu bisa dijadikan sebagai seorang tokoh yang menginspirasi. Kalau ia berhenti berjuang, apa yang bisa dipelajari darinya? Walaupun tentu saja apapun yang terjadi bisa menjadi pelajaran, namun, pelajaran yang baik akan memberikan motivasi untuk melakukan hal yang sama atau malah lebih.

Perjalanan sepak bola Indonesia seperti turun dari tebing. Sempat mengikuti piala dunia dengan nama Hindia Belanda pada 1938 di Paris. Menjadi salah satu kekuatan di Asia pada dekade 70-an, Hingga saat ini, 19 tahun tanpa gelar juara. Menyibak perjalanan tokoh-tokoh sepakbola negeri ini, tampaknya kita tak bisa lepas dari pria yang diberi julukan “si kurus” ini.

Seorang anak berdarah Makassar yang terpilih menjadi Asia All Star pada 1982, sekaligus kapten pertama Indonesia yang bisa membawa Timnas mendapatkan medali perunggu di SEA Games dua kali berturut-turut. Bukan hal mudah bisa melakukan hal tersebut. Itulah mengapa laki-laki satu ini bisa dijadikan satu pelajaran dalam menjalani hidup yang terus saja naik turun seperti rollercoaster.

Sejak kecil, Ronny Pattinasarani ingin sekali menjadi seorang pesepakbola. Darah untuk menendang bola memang ia dapatkan dari ayahnya, Nus Pattinassarany yang juga merupakan pemain sebelum era kemerdekaan. Sebenarnya karir Ronny sebagai pemain profesional agak telat. Ia baru bergabung dengan PSM Makassar pada umur 23 tahun. Dan ia mendapatkan tempat di tim senior PSM pada umur 25 tahun.

Talentanya sebagai pemain baru terlihat saat ia hijrah ke klub Galatama, yaitu Wala Agung. Di sanalah ia dipanggil untuk memperkuat Tim Nasional Indonesia dan meraih beberapa gelar. Pada umur 33 tahun “Si Kurus” memutuskan untuk pensiun menjadi pemain. Tapi karena tidak bisa lepas dari dunia sepakbola, Ronny akhirnya memutuskan untuk menjadi pelatih. Ia sempat melatih Persija Jakarta, Gresik United, Persiba Balikpapan dan beberapa klub lain. Sayang, karir kepelatihannya tidak secemerlang ketika ia menjadi pemain.

Setelah beberapa tahun berhenti menjadi pelatih, pada 2006 Mantan Libero tangguh ini kembali ke dunia yang membesarkannya. Kali ini ia masuk PSSI dan menjadi bagian dalam pengembangan pemain usia muda. Ronny merupakan salah satu orang yang konsisten dengan pembinaan sepakbola sejak usia dini. Pada Awal 2008, Ronny akhirnya meninggal. Ronny kalah oleh penyakit kanker hati yang dideritanya sejak 2007.

Otobiografi “Si Kurus”

Ronny terlahir sebagai pemimpin, begitulah julukan teman-teman seperjuangannnya di timnas. Bahkan, pada saat jadi kapten Ronny tidak segan-segan membela pemain muda sekali pun. “Si Kurus” juga terkenal cukup vocal dan lugas. Ia tidak segan-segan berbicara lantang pada PSSI sekali pun. Pada saat jadi pemain, ia sempat bersitegang dengan Ali Sadikin, ketua PSSI saat itu. Layaknya seorang gentleman, Ronny selalu menujukan sikap sebagai seorang pria sejati.

Hal yang paling luar biasa adalah pada saat Ronny memutuskan untuk berhenti dari dunia sepakbola karena Anaknya. Kedua anak Ronny sempat terjerat Narkoba, dan ia harus memilih. “Saya dihadapkan dua pilihan yang sangat sulit, sepak bola atau anak. Saya akhirnya memutuskan meninggalkan sepakbola meski saat itu tidak tahu apa yang akan saya lakukan,” papar Ronny

Akhirnya, karena kegigihan Ronny memberikan support berhasil membawa anaknya keluar dari jeratan Narkoba. Atas keberhasilannya tersebut, Ronny menerbitkan buku yang berjudul: “Dan Anakku Sembuh dari Ketergantungan Narkoba” Ronny memang seorang pria sejati baik di luar maupun dalam lapangan. Meskipun hidupnya berat, namun ia tetap gigih dan semangat untuk mengejar mimpinya. Seperti judul buku otobiografinya, “Dan Saya pun Telah Menyelesaikan Pertandingan Ini”, Ronny telah memenangkan pertandingan hidupnya dengan baik.

Jika Ronny masih hidup, pasti ia akan miris melihat keadaan sepakbola  2 tahun ke belakang. Semoga saja PSSI bisa sadar diri. Kekalahan demi kekalahan terus menerpa timnas. Bahkan di Piala AFF 2012, Indonesia tidak mampu masuk ke semifinal. Indonesia membutuhkan satu ketokohan dalam dunia sepakbola. Bagaimanapun, sepakbola ini menyatukan hati seluruh negeri. Semua akan lupa siapa dan dari mana seseorang berasal.

Pada saat menonton timnas berlaga, semua satu. Semua berpikir dan berdoa untuk timnas. Tidak ada pertikaian dan tidak ada saling ejek. Semua demi kemenangan tim kesayangan bersama. Sayangnya, keadaan memang tidak seperti yang diharapkan. Timnas kalah dan kekalahan itu untuk kedua kalinya terjadi karena melawan Malaysia, musuh bebuyutan Indonesia. Semoga timnas menemukan ruhnya kembali. Hidup Sepakbola Indonesia dan tokoh-tokoh sejarah sepakbola akan lahir!

Speak Your Mind

*