Ulasan Ilmu Fikih Islam Praktis

Ilustrasi ilmu fikih islamIlmu Fikih Islam adalah pengerahan potensi akal untuk mengkaji dan mengetahui hukum-hukum Islam yang bersifat amali atau amalan melalui dalil-dalilnya yang terperinci, berdasarkan pada Al-Quran dan As-Sunnah.

Seorang ahli fikih harus bersikap aktif dalam usaha memperoleh hukum-hukum syara’ dan berupaya memelihara atau berusaha menghafal hukum-hukum tersebut.

Objek Bahasan

Objek bahasan ilmu fikih adalah semua hal perbuatan yang bersangkutan dengan mukalaf. Mukalaf adalah orang dewasa yang telah wajib menjalankan hukum agama.

Contoh perbuatan mukalaf seperti: shalat, jual beli, tindak pencurian, ibadah puasa. Dapat disimpulkan secara sederhana bahwa setiap perilaku dan perbuatan mukalaf adalah obyek fikih yang memiliki nilai hukum.

Nilai tindakan mukalaf bisa bersifat wajib, sunat, mubah atau boleh, makruh, dan haram. Kelima sifat tersebut disebut dengan hukum taklifi. Hukum taklifi tersebut bisa berbentuk perintah, anjuran, larangan.

Ilmu fikih dimaksudkan agar syara’ dapat diterapkan oleh para mukalaf, baik perkataan atau perbuatan. Tujuannya agar mukalaf mengetahui ketentuan-ketentuan agama yang dilarang dan yang diperintahkan dalam pengerjaannya.

Pembagian

Ilmu fikih Islam berupaya menghasilkan produk hukum untuk kebaikan manusia dalam menjalani kehidupan dunia. Para ulama membagi hukum-hukum fikih, yaitu:

  1. Hukum yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT.
  2. Hukum yang membahas masalah-masalah keluarga.
  3. Hukum Muamalah, yakni berkaitan dengan hubungan antar manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup, seperti masalah harta dan hak-hak manusia.
  4. Hukum Jinayah atau ‘Uqubah, berhubungan dengan tindak pidana atas perbuatan negatif manusia yang merugikan manusia lain.
  5. Ahkam Al-Qada, masalah penyelesaian sengketa dalam hubungan antar manusia.
  6. Siyasah Asy-Syar’iyyah, berkaitan dengan masalah hubungan penguasa atau pemerintah dengan rakyat. Disebut juga dengan Al-Ahkam As-Sultaniyyah.
  7. Al-Huquuq Ad-Dawliyyah atau Siyaar, hukum yang mengatur hubungan antarnegara, baik tentang peperangan ataupun kedamaian.

Perkembangan

Ilmu fikih Islam mengalami pertumbuhan dan perkembangan sepanjang sejarah hukum Islam. Mustafa Zarqa, seorang ahli ushul dan fikih, membagi perkembangan fikih Islam dalam beberapa periode, yaitu:

Pertama. Periode risalah, yakni semasa Rasulullah saw hidup.

Kedua. Periode Khulafah Ar-Rasyidun atau empat khalifah utama, sampai pertengahan abad pertama Hijriah.

Ketiga. Pertengahan abad pertama Hijriah sampai permulaan abad kedua Hijriah.

Keempat. Awal abad kedua sampai pertengahan abad keempat hijriah. Pada masa ini, ilmu fikih berkembang pesat setelah para tabi’in meletakan dasar-dasar fikih. Lahirnya pula imam-imam madzhab, yaitu Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’I, dan Madzhab Hanbali.

Kelima. Pertengahan abad keempat Hijriah sampai pertengahan abad ketujuh Hijriah, tepatnya pada kejatuhan Negeri Baghdad. Pada periode ini, gerakan ijtihad mengalami kemunduran.

Para ahli fikih lebih memusatkan pada berbagai kajian-kajian perdebatan perbedaan internal masing-masing madzhab. Kajiannya sekitar pembahasan kitab-kitab fikih di antara madzhab mereka, berupa: Syarah (ulasan, penjelasan, keterangan), Tanqih (penerapan), dan Tahqiq (penetapan).

Keenam. Pertengahan abad ketujuh Hijriah hingga terbitnya Majallah al-Ahkam al-‘Adliyyah, Kodifikasi Hukum Perdata Islam, pada masa Turki Usmani. Periode ini, gerakan ijtihad semakin melemah bahkan tertutup.

Semua permasalahan hukum Islam yang muncul diselesaikan dengan merujuk pada kitab-kitab madzhab yang berkembang tanpa dikaji ulang dan didiskusikan lagi. Hal penting yang terjadi pada masa ini adalah:

  • Meningkatnya kegiatan pembukuan fatwa hukum resmi dengan merinci dalam bab-bab tertentu.
  • Kebijakan penguasa yang menentukan sebagian hukum fikih.
  • Pengkodifikasian hukum ke dalam bentuk undang-undang sebagai pengganti hukum fikih madzhab sebagai pengaruh dari berbagai perkembangan baru yang dihadapi Islam dan mulai dikenalnya hukum-hukum Eropa. Hal ini dilakukan oleh Kerajaan Ottoman yang menerapkan Hukum Perdata Turki Usmani.

Ketujuh. Sejak munculnya Majallah al-Ahkam al-‘Adliyyah hingga masa modern.  Terdapat tiga ciri fikih Islam pada masa ini, yaitu:

  • Kegiatan kodifikasi hukum sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman.
  • Meningkatnya usaha kodifikasi hukum Islam. Tidak hanya pada masalah perdata, tetapi berkembang pada masalah pidana, hukum acara, dan hukum administrasi negara Hukum perdata mencakup pada undang-undang perdagangan atau tata niaga, hukum pertanahan, dan masalah hukum acara perdata.
  • Munculnya gerakan untuk menerapkan materi hukum tanpa tertuju pada salah satu madzhab yang empat saja. Dipertimbangkan pula madzhab Hasan Basri, An-Nakha’I, Madzhab Auza, Abi Laila, dan Madzhab Makhul.

Ilmu fikih di Indonesia, banyak diajarkan pada pesantren dan madrasah, termasuk pada perguruan tinggi Islam. Sebagai sebuah ilmu, fikih terus berkembang seiring dengan problematika manusia untuk menjawab tantangan zaman.

Manfaat Belajar Ilmu Fikih

Belajar ilmu agama termasuk salah satu amalan yang tidak terputus hingga di akherat kelak. Begitupula mempelajari ilmu fikih. Hal ini pun tidak terbatas pada laki-laki saja, tapi juga perempuan. Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim memperhatikan seberapa banyak bekal ilmu yang dipelajari hingga saat ini termasuk manfaat yang didapatkan dari ilmu tersebut ketika di dunia.

Berikut ini beberapa manfaat dari belajar ilmu fikih yang sesuai dengan tujuan utamanya yaitu dapat mengetahui secara jelas dalil syara’ yang menjadi ketetapan Allah SWT. Dalil syara’ tersebut dapat berhubungan dengan ibadah, muamalah, akhlak, uqubat serta aqidah tentunya. Berikut beberapa manfaat belajar ilmu fikih yang dimaksudkan di atas yaitu.

  1. Orang yang belajar ilmu fikaih akan dapat mengetahui kaidah serta cara  yang dipakai oleh para mujtahid dalam menggali hukum. Cara ataupun kaidah yang dimaksud yaitu metode ijtihad yang telah disusunnya.
  2. Ketika belajar ilmu fikih, maka orang tersebut dapat mengetahui syarat-syarat yang harus dimiliki oleh orang yang mampu menggali hukum atau berijtihad serta biasanya dikenal sebagai mujtahid.  Selain syaratnya juga mengetahui bagaimana seorang mujtahid tersebut melakukan proses penggalian hukum atau ijtihadnya dan kemudian diamalkan di sekitarnya hingga menjadi dasar hukum.
  3. Orang tersebut tentunya akan mampu menyampaikan kepada masyarakat mengenai hukum suatu persoalan yang berkembang di masyarakat. Melalui ilmu fikih tentu saja orang tersebut mengetahui dasar hukum dari setiap persoalan manusia baik itu berkembang karena perubahan masa atau persoalan lama yang dulu pernah terjadi.
  4. Orang yang belajar ilmu fikih akan dapat mengetahui serta memahami dasar hukum dalam agama Islam sehingga tidak mudah tersesat oleh dasar hukum lainnya yang ada kemungkinan dibuat oleh manusia yang tidak berilmu.
  5. Dapat mengetahui serta memahami kekuatan maupun kelemahan suatu pendapat sesuai dalil yang digunakan dalam ijtihad oleh seorang mujtahid. Jadi, tidak sembarangan dalam menghukumi maupun menentukan kesalahan dalil dari dalil yang ada.

Demikianlah beberapa hal penting berkaitan dengan ilmu fikih di dalam Islam. Setiap muslim tidak ada ruginya ketika menuntut ilmu agama terlebih lagi di dalamnya terdapat beragam manfaat di dunia maupun di akherat nantinya. Semoga semakin menambah semangat belajar dalam beragam ilmu, baik ilmu agama yang menjadi kewajiban setiap muslim maupun ilmu pengetahuan lainnya yang penting bagi manusia.

Ulasan ini bukan sekedar tambahan wawasan bagi para pembaca tapi juga dorongan agar kita tidak menyia-nyiakan ilmu yang kita pelajari hanya sebatas teori. Akan tetapi, seorang muslim harus memaksimalkan diri dalam menuntut ilmu serta merealisasikannya dalam kehidupan. Semoga sukses belajar serta beramal!

Speak Your Mind

*