Vivid: Film Porno dan Kekerasan Seksual

Vivid, nama yang terasa familiar dan mudah diingat ini, bukanlah sebutan untuk memanggil orang. Tetapi merupakan rujukan pada industri pembuatan film porno. Ya, Vivid termasuk produser film porno dunia yang paling produktif.

Beberapa bintang film porno dunia berada dalam genggamannya. Begitu pun pemasarannya yang sangat masif, menjadikan produser film porno ini terkenal di seantero dunia. Dari film-filmnya sebenarnya tak hanya mengumbar syahwat tapi ada juga yang mencoba mengetahkan jalinan cerita yang masuk akal dengan penokohan yang menarik, sekalipun ujung-ujungnya tetap kepada masalah penyaluran syahwat yang tanpa batas dan menjijikan untuk tradisi timur seperti di Indonesia ini.

Keberadaan Vivid di Indonesia sendiri mulai popular pada 1990-an, masa ketika teknologi VCD mulai masuk ke Indonesia dan sistem komputer sudah mulai mengusung prosesor berbasis Pentium. Sehingga bisa memutar film dalam cakram VCD dengan baik, teknologi gambar yang tajam dan jernih, sehingga memudahkan orang memutar film keluaran dari Vivid tersebut. Maraknya VCD bajakan yang salah satunya film-film produksi Vivid ini semakin melambungkan nama Vivid sebagai produser film porno di Indonesia.

Pelajar Dan Mahasiswa Demam Vivid

Pelajar dan mahasiswa kala itu sempat dilanda demam Vivid. Terlebih dengan mulai dicangkokkannya VCD pada komputer yang memungkinkan bagi seseorang untuk menyimpan atau menggandakan sebuah film. Kecanggihan teknologi ini telah membuat distribusi Vivid semakin luas dan menyebar pada semua kalangan di berbagai pelosok. Tidak mengenal batasan usia dan jenis kelamin.

Penyebarannya yang luar biasa ini mungkin tidak disadari secara langsung oleh produser Vivid. Namun dengan melambungnya nama Vivid tentu saja ada efek langsung kepada produser tersebut.

Dengan semakin popular dan tersebar luasnya film porno produksi Vivid, maka nama-nama seperti Asia Carerra, Jonni Black, Mark Davis, Julian St. Jox, Tricia Deveraux, Julian Ann, Steve Drake, Michael J. Cox, Sindee Cox hingga Maria Ozawa alias Miyabi, semakin akrab dengan telinga anak muda.

Bahkan bukan hanya namanya, sampai lekuk liku tubuh mereka pun bisa dihapal juga. Begitulah luar biasanya sebuah tontonan audio visual, bisa meracuni pikiran secara perlahan tapi pasti. Kehadiran film porno yang memenuhi hasrat keinginan tahuan seseorang, memberi dampak ketagihan.

Manfaat Menonton Film Porno

Lantas ada persoalan apa dengan merebaknya Vivid? Sebelum kita mencari tahu persoalan apa yang bakal ditimbulkan oleh film porno, marilah kita mempertanyakan; manfaat apa yang diberikan oleh film porno? Manfaat film porno, tidak ada selain memacu nafsu birahi, yang terkadang justru malah jadi tidak terkendali. Begitu pula manfaat Vivid.

Selain menghadirkan gairah syahwat yang meletup-letup itu, tidak ada manfaat yang didapat dari tontonan porno. Sama sekali tidak ada secuil pun nilai-nilai pendidikan,selain bahwa nafsu syahwat yang meledak-ledak memang perlu penyaluran dan bisa disalurkan kepada siapa saja atas dasar suka sama suka. Kenyataan ini mendorong orang untuk berbuat menjadi tidak lebih baik dari seekor binatang.

Mungkin Anda bisa jawab sebagai referensi. Boleh jadi benar, tapi coba kita lihat referensi seperti apa yang diberikan Vivid. Sekuel dalam setiap episodenya selalu sama.

Pertama berciuman, selanjutnya oral seks, kemudian penetrasi alat kelamin, terkadang diselipi sedikit adegan anal seks dan ditutup dengan cumshot. Pemain pria orgasme, dengan sperma disemburkan ke muka dan mulut pemain wanita untuk dijilati. Apapun judul filmnya, siapapun nama bintang filmnya, film porno keluaran Vivid berputar pada masalah itu.

Kalaupun ada adegan perkelahian, ada adegan pencurian, cemburu, balap mobil, mencari sesuatu seperti layaknya detektif, ujung-ujungnya telah terpola seperti itu tadi. Jadi, sebenarnya menonton film porno seharusnya cepat bosan karena menonton sesuatu yang monoton, tidak ada nilai-nilai yang baik apalagi bisa diikuti sebagai tauladan selain menyalurkan hasrat syahwat. Tidak lebih dari itu.

Nah, kalau ditanyakan dampaknya, jawabnya banyak dan beragam. Tanpa Anda sadari kebiasaan nonton film porno, akan menjadikan Anda kecanduan. Kebiasaan ini akan diikuti dengan keinginan untuk melakukan hubungan seksual, setidaknya mendorong Anda untuk melakukan onani atau masturbasi. Tapi coba bayangkan bila pada saat keinginan untuk mengikuti adegan film porno itu muncul dan kesempatan ada, pemerkosaan dan perbuatan tidak senonoh akan mudah terjadi.

Ini dampak paling sederhana bagi yang belum punya pasangan, adapun dampak paling gawat kalau sampai mengakibatkan tindakan kekerasan seksual.

Pemerkosaan terutama kepada wanita yang dianggap tidak memiliki kekuatan untuk melawan seperti kepada anak kecil, nenek-nenek atau bahkan wanita dengan keterbelakangan mental akan kerap terjadi dan dilakukan oleh mereka yang telah kecanduan menonton film porno. Namun bila yang telah kecanduan menonton film porno seperti produksi Vivid ini tidak memiliki keberanian, setidaknya ia akan banyak melakukan masturbasi.

Sebenarnya, dampak film porno tidak hanya mengancam anak muda yang belum menikah, tetapi juga mengancam orang-orang yang sudah menikah. Kasus ini biasa terjadi ketika suami terobsesi dengan permainan seks pemeran perempuan dalam suatu film porno. Kemudian dia meminta istrinya untuk melakukan hal itu kepadanya.

Namun, andaikata istrinya menolak melakukannya, dan itu membuat suami marah hingga melakukan pemaksaan atau kekerasaan lain pada istrinya, bukankah itu juga dampak buruk dari film porno pada orang yang sudah berpasangan? Memang benar kasus kekerasakan di dalam rumah tangga korelasinya dengan suami yang kecanduan menonton film porno, tidak banyak diungkap.

Mungkin salah satu alasannya karena masuk ke dalam wilayah privacy seseorang. Padahal bila pengambil kebijakan dan para penegak hukum ingin benar-benar mengurangi atau bahkan menghilangkan masyarakat terhadap kecanduan film porno, sebagai shock therapy, kasus kekerasan dalam rumah tangga yang disebabkan oleh suami kecanduan menonton film porno, ada baiknya juga diungkap.

Selain itu, menjadi sifat dasar manusia untuk tidak pernah puas. Maka dalam konteks ini, terlalu banyak menonton film porno, akan membawa Anda pada imajinasi dan obsesi seksual yang semakin excited, dan bahkan sampai di luar nalar sosial, kesehatan, dan fungsi fisiologis bagian tubuh.

Film Porno Dan Perilaku Seksual

Apabila ini terjadi, maka sebenarnya Anda tengah mengancam keselamatan dan kelangsungan hidup Anda sendiri. Namun, yang menarik adalah pandangan pakar Psikoanalisa, Sigmund Freud, tentang prilaku seseorang. Menurutnya, perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh dorongan seksualnya.

Andaikata dorongan ini bisa mendapat pemenuhan, maka dia akan berprilaku wajar. Namun apabila tidak, biasanya dia akan berprilaku tidak wajar, misalnya mudah marah, gampang tersinggung, genit dan lain sebagainya. Ini semua sebenarnya sangat mengancam kelangsungan rumah tangga bagi mereka yang telah berpasangan dan muncul prilaku negatif bagi yang belum berpasangan akibat dari kecanduan menonton film porno, seperti halnya film-film produksi Vivid tersebut.

Nah, andaikata Anda rajin nonton Vivid hingga dorongan seksual Anda tinggi, pernahkan Anda berpikir tentang kewajaran prilaku Anda? Terlebih ketika dorongan kuat itu tidak dapat disalurkan secara wajar. Coba jawab sendiri pertanyaan itu dengan jujur, agar kalaupun anda telah berada dalam tahap kecanduan, bisa segera menghentikan.

Menghentikan kebiasaan menonton film porno memang perlu kekuatan dan niat yang kuat. Dan semua itu bisa dilakukan apabila yang sering menonton film porno menyadari dampak buruk dari kebiasaanya itu.

Speak Your Mind

*