Wujud Kepercayaan Agama Hindu di Bali

Ilustrasi kepercayaan agama hinduSistem kekeluargaan dan kekerabatan adalah sebuah ciri yang melekat pada seluruh kebudayaan di Indonesia. Tidak terkecuali pada masyarakat Hindu di Bali. Sistem tersebut menjadi hukum adat bagi terciptanya hubungan antara manusia dengan manusia.

Hubungan antarmanusia dalam ajaran Hindu di Bali tertuang dalam filosofi Tat Twam Asi sebagai dasar hukum. Secara harfiah Tat artinya ia, Twam artinya kamu, dan Asi artinya adalah. Secara keseluruhan berarti “ ia adalah kamu. Saya adalah kamu dan segala mahkluk adalah sama. Ini berarti menolong orang lain berarti menolong diri sendiri.

Dan menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Prinsip dasar Tat Twam Asi ini dalam kehidupan adat Bali diberi pengertian ke dalam asas-asas sebagai berikut.

  • Asas suka duka, artinya dalam suka dan duka dirasakan bersama-sama.
  • Asas paras paros, artinya orang lain adalah bagian dari diri sendiri dan diri sendiri adalah bagian dari orang lain.
  • Asas salunglung sabayantaka, artinya baik buru, mati hidup ditanggung bersama.
  • Asas saling asih, saling asah, saling asuh, artinya saling menyayangi atau mencintai, saling memberi dan mengoreksi, serta saling tolong menolong antar sesama hidup.

Masyarakat Hindu Bali biasanya menyediakan diri untuk datang ke rumah atau ke tempat warga masyarakat yang lain yang mempunyai atau mengadakan suatu kegiatan misalnya upacara, membangun rumah, selamatan dan lain-lain. Aktifitas ini merupakan pengejawantahan dari asas Tat Twam Asi, yang lebih dikenal dengan nama Metelulung.

Selain itu, ada juga adat mejotan, yaitu memberi sejenis kue atau makanan atau buah-buahan kepada tetangga atau sahabat-sahabat lainnya ketika seseorang mengadakan suatu upacara atau selesai mengadakan selamatan tertentu.

Dalam menjaga hubungan baik antara manusia dengan manusia, rasa hormat memanglah sangat penting untuk diperhatikan. Bagaimana anak muda menghormati yang tua, dan yang tua menghargai yang muda. Penghormatan dalam masyarakat Bali tidak didasarkan atas ekonomi atau kekayaan.

Dalam masyarakat Bali, ada tiga kelompok yang dituakan -disebut tri kang sinanggeh werda (mahuta)- di antaranya sebagai berikut.

  • Wahya Werda, mereka yang disebut tua karena usianya.
  • Jnana Werda, mereka yang disebut tua karena ketinggian ilmu pengetahuannya, baik ilmu pengetahuan keduniawian maupun kerohanian.
  • Tepo Werda, mereka yang disebut tua karena telah banyak menimba pengalan hidup.

Ketiga kelompok ini dalam masyarakat adat Bali selalu mendapatkan penghormatan yang sesuai dengan kekuatan yang dimiliki dan selalu diperhitungkan dalam setiap acara atau kegiatan sesuai dengan proporsinya masing-masing.

Masyarakat Hindu di Bali meyakini bahwa menjaga hubungan antar sesama manusia merupakan wujud kepercayaan agama hindu dan sebagai  jalan untuk mewujudkan keselamatan dan kedamaian.

Speak Your Mind

*