Yaman

Sejarah Negara Yaman

Negeri ini memiliki pengaruh besar bagi peradaban Arab sebelum Islam datang. Wilayah ini bisa dibilang memulai peradaban Arab. Banyak kerajaan besar Arab yang dimulai dari sini. Misalnya adalah kerajaan Ma’in, Qutban, Saba’, dan Himyar.

Kerajaaan Ma’in sudah muncul sekirat 1200 tahun sebelum masehi. Sedangkan kerajaaan Qutban muncul sekitar 1000 tahun sebelum masehi. Setelah kerajaan itu runtuh, muncullah kerajaan Saba’. Kerajaan ini memiliki posisi penting dalam sejarah agama samawi.

Salah satu kisah yang disebutkan dalam kitab suci adalah Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman. Memang masih diperdebatkan wilayah kerajaan Saba’ dari Ratu Balqis. Ada yang bilang terletak di Ethiopia modern ini, ada yang bilang terletak di Yaman.

Kisah ini diperkirakan terjadi di awal berdirinya Kerajaan Saba’, sekitar sembilan abad sebelum masehi. Kisah ini merupakan dongeng yang sudah dikenal di mana-mana, apalagi di Indonesia. Hal yang perlu diperhatikan adalah peradaban kerajaan Saba’ yang sudah maju pada saat itu.

Dalam kitab suci juga kita mengetahui bahwa kerajaan itu pada mulanya menyembah matahari. Berbeda dengan paham samawi Sulaiman. Hal itu sempat berubah ketika Sulaiman menikahi Balqis. Peradaban di era Saba’ terhitung sudah maju. Selain kerajaan megah Balqis, mereka juga mampu membangun bendungan.

Bendungan ini disebut dengan Ma’rib. Bendungan besar ini sangat berguna dalam mengairi pertanian. Rakyat di wilayah ini memang lebih banyak hidup di pertanian dan peternakan. Hal ini disebabkan karena tanahnya yang relatif subur dibandingkan wilayah di semenanjung Arab lainnya.

Dalam beberapa sumber disebutkan bendungan raksasa ini juga memiliki andil dalam kemunduran Saba’. Bendungan ini mengalami kebocoran sehingga menyebabkan banjir besar. Hal ini membuat banyak warganya mengungsi ke Arab bagian utara. Kerajaan Saba’ yang melemah ini akhirnya digantikan hegemoninya oleh Kerajaan Himyar.

Kerajaaan ini cukup maju dan luas kekuasaannya. Bahkan pernah mencapai Irak dan Bahrain. Namun bendungan Ma’rib yang tidak terawat akhirnya memunculkan bencana kedua. Kerajaan ini mengalami kemunduran seperti kerajaan sebelumnya. Demi memanfaatkan momentum itu, Parsi dan Romawi, dua kerajaan yang lebih besar, berusaha memasukkan kekuasaannya di wilayah ini.

Kerajaan-kerajaan di wilayah ini pada masa jayanya memiliki armada laut yang handal. Hal ini sesuai dengan wilayahnya yang banyak dikelilingi lautan. Mereka mampu berlayar dan melakukan perdagangan ke timur sampai India, Cina, dan Nusantara. Tidak heran jika banyak yang menganggap peradaban Arab yang masuk ke Indonesia kebanyakan dari wilayah ini.

Wilayah ini juga pernah diliputi perang agama. Zu Nuas, penguasa wilayah ini sekitar abad kelima Masehi, memeluk agama Yahudi. Dia resah karena warga Najram, wilayah bagian utara, memeluk agama Masehi. Dia khawatir, karena agama itu adalah agama dari kerajaan kuat di sekitar negara ini, yaitu Romawi dan Habsyl (Ethiopia sekarang).

Dia mengultimatum warga Najram untuk pindah agama atau mati. Mereka memilih mati, dan terjadilah tragedi pembantaian. Warga Najram yang selamat melarikan diri ke Habsyl. Kerajaan Habsyl tidak rela saudara seagama mereka dibantai. Demi agama, mereka juga bekerja sama dengan Kerajaan Romawi untuk menyerang negara ini.

Dengan armada yang kuat itu, tidak heran jika negara ini berhasil ditaklukan dengan mudah. Semenjak itu wilayah ini dikuasai oleh bangsa Habsyl. Nantinya penguasa Habsyl di Yaman, Abrahah, menjadi tokoh penting juga dalam sejarah Islam.

Kekuasaan Habsyl tentu tidak menyenangkan bagi banyak warga negara ini. Mereka berusaha menggandeng Kerajaan Persia untuk mengeluarkan Habsyl dari Yaman. Apalagi Persia waktu itu sedang berebut pengaruh dengan Romawi sebagai kerajaan terkuat di timur tengah. Kisra, penguasa Persia waktu itu sepakat untuk mengeluarkan Habsyl dariYaman.

Akhirnya negara ini berhasil dikuasai Parsi. Mereka kemudian mengangkat pemimpin di wilayah ini, tentu masih di bawah kekuasaan dan kendali Persia. Kerajaan Persia dan Romawi akhirnya memiliki pengaruh yang seimbang di Jazirah Arab.

Mereka juga sama-sama dirugikan dengan suku-suku Arab bagian utara yang gemar menyerang dengan taktik gerilya. Suku-suku ini bersifat nomaden dan sering menyerang perbekalan dan barang dagangan untuk Romawi dan Persia.

Hal ini tentu meresahkan kedua kerajaan besar ini. Oleh karena itu, mereka membentuk benteng untuk menanggulangi hal ini. Mereka membentuk kerajaan boneka. Romawi mendirikan Kerajaan Ghassanah, sedang Persia mendirikan Kerajaan Manadzirah.

Keduanya berfungsi melindungi kepentingan Romawi dan Persia. Karena perbedaan agama dan politik itu, kedua kerajaan ini acap kali berperang. Negara ini masih menjadi kerajaan otonom sampai era Arab Islam. Baru di masa Khulafaur Rasydin, negara ini menjadi satu dalam kekuasaan Khilafah Islam. Selanjutnya, wilayah Yaman pernah dikuasai oleh Mesir dan kekaisaran Ottoman.

Yaman Modern

Yaman modern dimulai pada abad ke 20. Pada tahun 1918 sampai 1962 wilayah ini dikuasai oleh dinasti Hamiddadin. Dinasti ini berkuasa menggunakan sistem monarki. Pada 1962 Yaman Utara melepaskan diri dari sistem monarki dan menjadi republik. Yaman Selatan baru merdeka dari Inggris pada tahun 1967.

Yaman Selatan lalu mendapat pengaruh kuat dari Uni Soviet. Baru pada tahun 1990, kedua wilayah utara dan selatan dapat disatukan. Negara ini menggunakan sistem republik pada pemerintahannya. Namun tetap saja sering terjadi konflik antar dua wilayah ini. Misalnya adalah perang saudara pada tahun 1994.

Yaman terbaru juga tidak lepas dari konflik. Sebagai imbas dari revolusi di Tunisia. Pada tahun 2011-2012 negara ini juga mengalami pergolakan yang menuntut revolusi sistem pemerintahan. Negara ini memiliki populasi sekitar 25 juta penduduk. Mata pencahariannya berbeda dengan negara Arab lagi yang menghasilkan banyak minyak.

Hal ini membuat negara ini menjadi salah satu negara yang paling kurang sejahtera di semenanjung Arab. Hal ini sungguh ironis karena negara ini dianggap sebagai pelopor peradaban Arab. Walau begitu, negara ini masih mengandalkan pemasukan dari minyak bumi.

Sebenarnya wilayah ini memiliki potenti gas alam yang besar. Negara ini baru mengeksplorasi gas alam secara besar-besaran pada tahun 2009. Namun adanya konflik internal sekarang ini membuat eksplorasi ini sedikit terganggu.

Keindahan Yaman

Negara ini sebenarnya memiliki potensi wisata yang tinggi. Negara ini juga memiliki banyak situs yang menjadi warisan budaya dunia versi UNESCO. Misalnya adalah kota Sana’a. Kota ini awalnya bernama kota Sam. Nama ini diambil dari penemu dan perintis peradaban di wilayah ini, Sam bin Nuh.

Kota ini sekarang menjadi ibu kota dari Yaman modern. Kota ini unik karena terletak di 3000 meter di atas permukaan laut. Sana’a menyimpan banyak objek menarik, seperti bangunan tua dan bersejarah. Misalnya adalah Dar Al Hajr, atau istana batu.

Istana ini dibangun di atas batu raksasa, tidak jauh dari pusat kota Sana’a. Istana yang berdiri di abad 18 ini dibangun oleh Mansour Ali bin Mehdi Abbas. Hal yang menarik lainnya dari negara ini adalah kulinernya. Kulinernya banyak mengandalkan cita rasa rempah-rempah yang kuat, tidak berbeda dengan Indonesia.

Cita rasa andalan lain dari negara ini adalah anggur, madu alam dan kopi. Madu alam dari Hadramaut ini memiliki produk andalan sehingga harganya juga mahal. Pulau Sokotra juga menjadi bagian yang menarik dari negara ini. Pulau ini terletak di Samudra Hindia, sekitar 380 kilometer dari negara ini.

Nama pulau ini konon diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti “pulau kebahagiaan”. Keindahan flora dan fauna menjadi ciri khas dari pulau ini. Ada tanaman yang menjadi ikon, misalnya pohon Darah Naga, yang hanya ada di pulau ini.

Tidak heran, dengan segala panorama dan keunikannya, kota ini menjadi warisan budaya dunia versi UNESCO. Yaman juga berusaha menjaga kelestarian dan kealamian pulau kebahagiaan ini.

Speak Your Mind

*